PERIHAL KARYA SENI RUPA ‘REMEH’
Karya Seni Rupa “BEYOND THE PURE ART”
Banyak karya seni rupa yang tidak mendapat perhatian
khusus dari para teoretisi seni rupa. Hal itu dikaitkan dengan anggapan bahwa
karya-karya tersebut dianggap bukan karya adiluhung, yang menggambarkan latar
belakang pemikiran akademisi. Karya-karya seni rupa jenis ini dianggap sebagai
karya seni remeh (meminjam istilah yang biasa digunakan mengingatkan secara
teoretis oleh Prof. Sudjoko), yaitu karya-karya yang dibuat oleh para pedesa
(ini juga istilah yang sama dari Prof. Sudjoko). Para pekota, “lawan” pedesa,
telah membangun gap theory yang membentengi lingkaran teori seni rupa akdemis-otodidak.
Ketika para pekota di Barat beranggapan bahwa seni
utama adalah seni lukis, seni patung, dan seni bangun (ditambah seni gambar dan
puisi), maka para pekota di hampir semua belahan dunia pun memegang prinsip
tersebut. Ketimpangan sikap sosial yang melatari pola teori Barat tidak begitu
diperhatikan oleh para pelangsung dan pendukung teori tersebut. Padahal, di
banyak tempat, karya seni rupa utama sangat beragam. Di Indonesia yang
mengagungkan teori ketimpangan tadi, juga mengabaikan begitu banyak karya seni
rupa anak bangsa yang bobot nilai estetis maupun simbolisnya sangat tinggi.
Sehingga, ketika akan berbicara masalah estetika Indonesia, kesulitan yang
dibangun dan dikedepankan adalah pertanyaan yang melemahkan semangat pencarian:
“adakah teori estetika Nusantara yang bisa dijadikan landasan berpijak?”
·
MENGULAS SENI NUSANTARA
a. Dampak
Kata
Orang
sekarang tidak tahu bahwa kata KRITIK itu disontek dari bahasa Barat (catatan
kaki yang diubah: tanpa paham bahasa Barat, kita sekarang berhak menjadi
sarjana, dan dosen. Dulu sih mustahil). Yang tahu pun mungkin tidak tahu dari
kata apa: critic, critiek, kritisch, critique, critisize, critical, criticism
.... yang maknanya seperti bunglon. Lalu apa itu ‘kritis’, ‘kritisi’ dsb. Saya
sudah ketemu sarjana2 yang pusing karenanya. Jangan tanya lagi dosen muda,
mahasiswa ingusan, dan pembaca koran.
Kata
‘kritik’ memang disebut Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI). Sialnya,
keterangannya justru tidak cocok dengan maunya ‘kritik’ seni. (Tetapi yang tahu
kan cuma segelintir ‘orang seni’, bukan?). Ketika menyusun KUBi, pak
Poerwadarminta (dan kita) memang belum pernah mendengar sebutan ‘kritik seni’.
b. Sontek
Orang
(berapa gelintir?) yang tahu kritik seni di Barat bisa berkata, “Maksud kritik
seni itu sebenarnya begini”. Dan “begini” itu yan nebeng maksud Barat itu,
lengkap dengan aneka istilahnya dan teorinya (asal tidak salah mengerti).
Memakai tembung (catatan kaki yang diubah: tembung [Jw] bisa berarti sebuah
kata, sekumpulan kata, bahkan juga bahasa) tebeng biasanya memang sekaligus
menyedot isinya asal sono juga. Tentu, sepanjang yang dapat kita cerna (Maklum
bahasa Barat ..). Itu tentang arti ‘kritik seni’.
Selama
ulah sontek kita masih terus latah saja, pantas juga kita mempertanyakan kadar
kedaulatan bangsa kita. Tetapi ada satu cara mengatasinya: ambil saja tembung
pribumi. Misalnya ULAS SENI. Ini mendorong kita mencipta maknanya sendiri, dan
tidak menggiring naluri kita untuk bertanya kepada pakar manca (lalu manggut2
kebegoan). Hanya yang sudah terpaku pada tembung ‘kritik seni’ saja yang akan
bertanya, “Apa itu ulas seni?”
c.
Seni
Baru
Ada
kata lama yang ketambahan makna baru: SENI. Maknanya yang lama tetap berlaku,
misalnya ‘air seni’. Makna barunya muncul sekitar tahun 1950, yang kemudian
menetaskan tetembung seperti seperti ‘seniman’, ‘kesenian’, ‘pendidikan seni’,
‘film seni’, ‘nyeni’, dan belakangan ini ‘kritik seni’. Anak kita percaya saja
bahwa semua ini sudah ada sejak baheula, padahal bikinan baru, dan saat lahir
juga membuat orang bertanya, “Apa itu seniman? Jago kencing?”
Orang
Belanda sendiri yang mengajar ‘seni rupa’ di sini resminya tidak pernah
menggunakan istilah kunstcritiek (= kritik seni). Nama matakuliahnya saja
Kunstbeschouswing (‘Tilik Seni’). Dengan sendirinya mahasiswa tidak diajari
‘ngritik’. Lalu dengan mudiknya guru2 Belanda (yang terakhir pergi tahun 1960)
kita mulai banyak membeo sang adidaya. Jadi kita bilang ‘apresiasi seni’; tidak
misalnya ‘tanggap seni’ atau ‘tilik seni’. Sementara itu sejak 1970an menggema
tembung ‘kritik sastra’, ‘kritik seni’, dan ‘kritik film’. Semua ingin menyamai
krotak-kritik di manca berikut nekateorinya sekalian. Otak kita ‘membayar hak
cipta’ sono dengan menyedot aneka ‘kata orang’ sono, peristilahan, carapikir,
carapilih, caranilai, perilaku di sono dll, tentu sejauh, sesempit, atau sebenar
yang kita ketahui.Makanya ‘sikampus’ bersikeras bahwa sebelum abad 20 di
Nusantara belum ada ‘disain’ dan ‘disainer’. Yang ada cuma rakyat gugon
(takhyulan) yang membuat barang cuma pakai bantuan jampi2 dan bau kemenyan.
Pokoknya tanpa otak, ilmu disain maupun ergonomics. Pesombong ini sebenarnya
tak paham bahasa asing, cuma membeo gurunya saja, dan tidak pernah memeriksa
rerupa buatan rakyat kita, saking keblingernya dia oleh yang serba Barat.
d.
Kritik
Seni Rupa
Kritik
tari ditulis oleh penari. Kritik musik ditulis oleh pemusik. Kritik sastra oleh
sastrawan. Kritik arsitektur oleh arsitek. Kritik sandiwara oleh pesandiwara.
Dan kritik senirupa? Wah, ini mah bukan kerjaan perupa. Nggak wajar dong kalau
perupa menulis. Biar saja orang lain yang bertempur dengan mesin tik. Penghasilan
mereka memang sangat kecil (dibanding dengan harga lukisanku), tapi dia toh
dapat ‘nama’ dan ‘gengsi’, bukan? Dan kita toh perlu orang2 ‘idealis’ bukan,
yang menulis “demi sejarah seni dan nama senirupa Indonesia di mata dunia” dan
sebagainya. Pokoknya penulis itu tak usahlah ikut2 an mimpi “BuummM!”, sebab
itu bukan nasibnya, bukan takdirnya, dan rezeki hanya bagiku.
Yang
merasa wajar saja menggunakan peristilahan pribumi, bahkan kedaerahan, hanya
kritik tari dan musik. Yang lain suka mengganti nama2 pribumi dengan nama2
Barat. Dan yang mengulas seni baru maupun seni adat? Juga kritik tari dan
musik. Kritik sandiwara dan bangunan terkadang bisa begitu juga. Lalu siapa
yang tidak pandang bulu, yang enak saja menulis tentang seni di aneka daerah
Nusantara? Lagi2 kritik tari dan musik.
e.
Seni
Rupa
Dalam
‘kritik seni’ kita, seni rupa itu sejenis lukisan berbingkai. Pokoknya yang
seperti di sonolah. Hanya kadang2 dia itu patung, gerabah, dan gambar pena,
itupun harus yang ‘murni’. Buatannya mesti bisa dicap dengan istilah membarat,
misalnya ekspresionis, surealis, dan sebagainya.
Pokoknya,
tiap pikiran untuk mengabaikan sebagian bangsa dan tanahair, meremehkan budaya
maupun senirupa ‘beyond the Java Sea’ (meminjam ajaran KIAS) adalah benih
ketimpangan, kegecotan, perasingan, kesombongan, kelaliman, dan perpecahan
(gecot = tak benar; lalim = tak adil). Kepada perkara beyond tadi ingin saya
tambahkan dua lagi: ‘beyond the big city’ dan ‘beyond modernism’, sebab kawasan
ini juga sarat seni rupa. Yang tidak sependapat mungkin hanya penganut
polapikir tertentu saja tentang SENI RUPA. Yang namanya ‘seni’ itu apa? ‘Seni
rupa’ itu apa? Pemodern tentu senang pembongkaran dan pembaruan, termasuk
bongkar-pasang-baru pola pikirnya sendiri.
f.
Serbarupa
Orang
yang belajar seni rupa di lembaga tinggi kita dapat memilih bidang yang
kebetulan disukai ‘kritik seni rupa’. Tetapi dia juga bisa memadaikan diri
bidang tenun, batik, ukir, iklan, rekaruang, rekabenda, rekabuku, pariwara,
dll. yang telah atau bakal ada. Saya sendiri mimpi jurusan rekaswatur atau
computer design (catatan kaki yang diubah: Calon gurunya sudah saya siapkan:
Rina Wayanti. Mulai tahun 1992 dia akan menekuni Computer Design dulu di Ohio
State University). Singkat kata, dalam pendidikan kita, SENI RUPA itu sudah
jauh lebih luas dari yang selama ini dimaksud oleh
pameran/diskusi/sejarah/hadiah/kritik seni. Aneh tapi nyata. Karena itu para
mahasiswa mengikuti segala macam sayembara senirupa yang disiarkan koran
(membuat pariwara, logo, piala dll). Banyak lulusan bekerja menangani senirupa
di majalah, perusahaan iklan, pabrik tenun, pabrik mebel dll. Ada juga yang
menjadi ahli rekataman. Taufan Sukarno (putra Bung Karno) lulus sebagai sarjana
seni rupa ITB dengan rekamobil sebagai karyatama.
Kawasan
senirupa teramat luas, dan mahasiswa diberi kesempatan untuk menggarap apa saja
di situ yang mereka minati. Matakuliah Seminar dan Skripsi khusus disediakan
untuk itu. Misalnya, dengan bimbingan saya ada yang menulis skripsi tentang
segala kemasan/wadah jajanan Jawa: kupat, klepon dll. Inilah senirupa yang tak
ada duanya di dunia. Telah dua orang menulis tentang perhiasan Runi Palar (yang
sering saya sebut sebagai seniwati Indonesia paling kenamaan di seluruh dunia).
Ada skripsi yang mengupas seni pandai besi: golok, pisau, arit dll. Dan
begitulah seterusnya.
g.
Serbamoh
Cuma
(kecuali Yusuf Affendy), mereka itu --dan hampir semua sarjana senirupa lain--
tidak doyan menulis makalah dan artikel, bahkan menulis diktat juga tidak. Di
sinilah sumber lain dari ‘masalah kritik seni kita’. Tetapi beginilah bangsa
kita dan seniman kita ini, termasuk yang tertinggi pendidikannya: moh-nulis,
selalu berdalih “tidak bisa menulis” atau “bukan tugasku menulis”. Menurut Yus
Badudu ada dalih lain: “Maklum, saya bukan sastrawan ...” Karena kuatnya adat
mohtulis ini bangsa kita juga tidak pernah punya minat untuk menggalakkan
rangsangan menulis. Kita baru pandai merangsang orang untuk menjadi penyanyi
pop. (Sejuta rupiah satu lagu, 75 juta rupiah untuk mentas di malam ‘Old and
New’).
h.
Virus Lain Bernama Mohteori
Ini
menulari sebagian ‘dosen praktek seni’ (guru melukis, mematung dll). Nalarnya
begini: teori itu bukan kerjaan ‘guru praktek’, termasuk teori tentang
bidang-praktek mereka sendiri. Jadi kalau dikirim ke luar negeri, mereka hanya
mau ‘kerja praktek’ melulu. Kembalinya tentu saja tanpa ijazah tambahan. Singkatnya,
adat mohtulis-mohteori-mohbaca inilah biang lain dari masalah ulas seni kita.
Memang, belakangan ini muncul momoknya, yaitu syarat naik pangkat di perti
negeri. Momok kertas? Kita lihat saja nanti
i.
Televisi
Hampir
tiap malam TVRI menayangkan seni rupa, sebagai warta pendek maupun tayangan
panjang. Misalnya tentang tenun, batik, busana, anyaman, kerang, kulit, kue
besar, perabot rumah, bunga kering, karangan bunga, giok Cina, lomba patung es,
keris, topeng, wayang, lukisan bulu, lukisan paranormal, dan banyak lagi dari
seluruh Nusantara. Pewarta TV, mungkin karena tidak pernah belajar teori seni
memBarat, leluasa saja mengejar rerupa yang menarik dan elok. Dia mengajak kita
nonton (pameran) seni yang tak digubris pekritik dan dicibir kaum mongkok.
Paling tidak dia bicara, minta seniman dan penikmat nimbrung. Kritik seni?
Bukan. Ini warta seni, bincang seni. Ini mestinya jatah pengamat seni
berpengetahuan jembar. Tapi seniman mana yang mau jadi wartawan TV?
Bagaimanapun juga, semua tadi nyata berselisih jalan dengan ‘kritik seni’.
j.
Kajurupa
Rerupa
yang disebut Kramers a.l. kotak, peti, piala, gendul (botol), ternang (kendi
bertutup), buli (gendul kecil), cangkir, mangkuk, mukum (bokor bertutup),
piring, pisin (lapik cangkir/gelas), kolam, kendi, baki, pahar (talam besar
berkaki, untuk sajian makanan), ketur (peludahan), kandil (tempat lilin),
(b)ancik (tempat kaki), lentera, pedupaan, ridai, kumai (ukiran pada meja,
kursi, bingkai dsb), lemari, baju, kendit (ikat pinggang), pending, serban,
sutera suji, tabung kalam, tempat dawat, wadah uang, punggung buku, kulit buku,
jagrag (tempat mendirikan) bunga, sangkar burung, perecik raksi
(reukwatersprenkelaars), sundusi (goud-brocaten stoffen), dan dilagantung
(hanglampen).
Seni
rupa itu ditilik lewat banyak jurus. Yang barusan tadi jurus sejarah. Lalu ada
jurus antropologi, jurus sosiologi, jurus nafkah rakyat kecil, jurus
pembangunan desa, jurus pariwisata, jurus ekspor nonmigas, jurus pabrik,
pokoknya banyak jurus. Masing2 punya patokannya, maksud-tujuannya, caranya,
kebiasaannya, dan penilaiannya sendiri. Pokoknya kalau ingin menjawab ‘apa itu
seni rupa?’, jangan belum apa2 sudah sok mongkok, mentang2 kita ini terpelajar
dan pekotabesar.
k.
Kritik
Salah
satu biang masalah KRITIK SENIRUPA berpangkal pada tembung ‘kritik seni’ itu
sendiri, sebab menyelundupkan muatan2 berikut dari sumber Baratnya: 1) hanya
mengitari satu-dua jenis senirupa; 2) berpatokan ‘seni murni’; 3) hanya
menggauli seni baru; 4) hanya menyoroti seni pribadian; 5) hanya menonjolkan
seni kotabesar; 6) hanya melayani kaum tengahatas; 7) hanya menguntungkan
senirupa kota besar Jawa; 8) hanya menggunakan peristilahan Barat.
l.
TV dan Pers
Dengan
demikian dewasa ini peranan pers dan TV menjadi paling menentukan (entah harus
sampai kapan). Segala jenis uraian senirupa masih harus ditumpahkan di situ.
Kalau di negara maju tidak begitu, ya itu karena negara itu sudah maju. Kita
pahamilah ini. Janganlah kita suka mimpi mau seperti sana padahal
landasannya tidak ada. Yang perlu disajikan TV/pers ialah ilmu seni, tanggap
seni, dan ulas seni, secara terpisah maupun tergabung.
BATIK,
SANG PENJELAJAH Pokok pikiran diajukan dalam Sarasehan Batik, pada 9
September 1990, di Dalem Ageng Ambarrukmo Palace Hotel, Yogyakarta, dalam
rangka Dies Natalis Asrama Mahasiswa GKBI Yogyakarta.Oleh Saneno Yuliman “Menjelajah”, menurut Kamus Umum
Bahasa Indonesia 1976, berarti menjajah atau bepergian, menyelidiki, dsb, ke
mana-mana. Diterapkan untuk batik, kata itu tentu saja digunakan dalam arti
kias. Batik, sebagai cabang seni, dikatakan menjelajah, dalam arti merambah ke
berbagai arah, mencobakan sejumlah hal yang sebelumnya tidak dilakukan. Saya
ingin menggarisbawahi kenyataan sejarah yang memperlihatkan betapa batik
memiliki sifat penjelajah ini, dan ingin menggarisbawahi sifat ini sebagai
unsur pokok yang di dalam pikiran kita selayaknya membentuk citra kita tentang
batik. Tentu saja itu berarti, saya memegang citra dinamis tentang batik: saya
memandang dinamika sebagai unsur hakiki di dalam batik. Pandangan begini
membawa konsekwensi dalam praktek seperti akan saya bicarakan kemudian.
m. Perumitan
dan Penghalusan
Proses
pembuatan kain batik cukup rumit. Seluruhnya ada 5 macam proses pokok, dari
penyiapan kain hingga nglorod (menghilangkan malam) dan proses akhir.
Masing-masing proses itu berisi sejumlah proses. Penyiapan kain, misalnya,
meliputi 4 tahap atau proses (mencuci, ngetel, nganji, ngemplong), sedang
proses kerja dengan malam, berisi 6 proses (nglowongi, nembok, mbironi, nonyok,
ngremuk, cocohan). Tentunya kita perlu mengingat pula peralatan dan
perlengkapan yang digunakan.Terdapat perkembangan yang jauh dalam teknik, dari
batik sederhana dan kasar yang telah kita singgung di muka, ke batik Jawa yang
kita sebut tradisional atau klasik. Bagaimana perkembangan begitu terjadi dalam
masyarakat yang selama itu berpedoman pada tradisi? Tentu berjalan lambat dan
lama, berabad-abad, sekalipun seandainya kita memperhitungkan kemungkinan
pengaruh dari luar. Perkembangan itu meniscayakan penjelajahan.
Empat ribu orang
wanita sedang membatik yang disaksikan Rijklof van Goens waktu Gubernur V.O.C.
itu mengunjungi keraton Mataram pada 1606 menunjukkan, bahwa pada awal abad
ke-17 batik telah menjadi seni, dan industri, yang penting dalam keraton
Mataram. Dalam abad itu ia harus bersaing dengan tekstil halus, bergambar, dari
India (malabar), yang masuk dalam jumlah besar ke Nusantara. Perkembangan
canting dan proses batik niscaya sebagian dipacu oleh tantangan ini, untuk
menghasilkan kain yang tangguh dalam persaingan.
n. Perluasan
Konsumen dan Penekaragaman Kebutuhan
Tantangan
tidak berhenti dalam abad-17 dan ke-18. Pemerintah kolonial Hindia Belanda
ditegakkan di abad-19, memperkecil dan memperlemah kekuasaan keraton-keraton,
termasuk genggaman mereka atas batik. Pemerintah Hindia Belanda juga memasukkan
bermacam etnis – masyarakat yang terpilah-pilah ke dalam aneka kelompok etnis
adalah ciri penduduk kota pesisir – ke dalam satu tata pemerintahan, mempergiat
komunikasi antar-etnis. Yang memerlukan batik, meluas: bukan hanya orang Jawa.
Tambahkan ke dalamnya ikhwal pertambahan penduduk.
Memudarnya
masyarakat tradisional, ekonomi pasar, perluasan konsumen, tampaknya telah
menambah dinamika batik, memperluas dan mempergencar penjelajahannya. Satu
lagi: ketika adat memudar, ikatan etnis, kerabat, dan daerah melonggar, batik
bertemu dengan kumpulan luas individu yang serbaragam. Dan batik, sebagai
sandang, sebagai perlengkapan diri dan perlengkapan rumah, tak ayal memasuki
wilayah pribadi – bertemu dengan citra diri dan cita rasa yang sangat
anekaragam dan berubah-ubah dalam kumpulan individu yang sangat luas itu.
Kenyataan ini memperkuat tuntutan terhadap batik akan penjelajahan yang sadar
dan berencana di jaman sekarang.
Batik,
Sang
Penjelajah
Ini
tidak bertujuan mencatat sejarah batik, apalagi terperinci dan lengkap dengan nama-nama
pihak dan orang yang berjasa di dalamnya. Cukuplah bila dapat ditonjolkan ke
permukaan salah satu ciri yang dimiliki batik: sifat penjelajah. Bukan
penjelajah yang kian-kemari dengan tangan hampa. Sebab, kita dapat menyidik
sifat selektif dan kumulatif penjelajahannya: ia tidak membuang segala apa yang
telah diperolehnya dalam perjalanannya, tanpa timbang-timbang dan pilih-pilih.
Bagaimanapun,
penjelajahan itu, di jaman sekarang, tidak dapat berlangsung secara
meraba-raba: sekarang, penjelajahan itu perlu sadar, berencana, kritis. Itu
berarti, penjelajahan perlu berlangsung dengan sikap dan laku menelaah,
menilai, dan mencari tindak lanjut. Penjelajahan itu juga perlu ke berbagai
arah: ke arah bahan dan teknik, ke arah rupa, dan ke arah guna. Ke arah bahan
dan teknik, tentu saja berarti telaah perlu pula diarahkan kepada sistem yang
di dalamnya bahan dan teknik itu digarap atau dilaksanakan: telaah ke arah
sistem produksi. Telaah ke arah rupa menyangkut telaah ke arah wahana yang
mendukung rupa itu, yaitu bahan dan teknik. Dan telaah ke arah guna tentulah
menyangkut telaah ke arah pemakaian, yang berkait dengan perilaku pemakai
sehubungan dengan produk. Dan tak pula kurang terkait: saluran, yang
mengantarkan produk kepada pemakai. Dengan kata lain, sistem distribusi.
Akhirnya, telaah tidak semata-mata tertuju kepada apa yang telah ada, yang
potensial. Penjelajahan seperti itu tiada lain praktek penelitian dan
pengembangan, yang bisa berlangsung di dalam perusahaan, atau pun di luarnya. Hasil penelitian dan bahasan lain
tentang karya seni rupa beyond the major art ditampilkan di sini. I Wayan
Nuriarta dan I Nyoman Mahayasa, kedua-duanya lulusan Jurusan Pendidikan Seni
Rupa, FBS-UNDIKSHA, melakukan penelitian untuk menyelesaikan program S1
kependidikannya dengan topik bahasa tentang komik Naruto (Nuriarta) dan grafiti
(Mahayasa). Sebagian laporannya menjadi bagian dalam tulisan ini, setelah
disesuaikan dengan peruntukan.
Hasil
Penelitian
·
Komik
(Bagian
dari laporan penelitian I Wayan Nuriarta tentang Komik Naruto)
Istilah komik berasal dari bahasa Inggris comic yang
berarti cerita atau buku komik, yang bersifat gembira (Echols dan Shadily,
1990:129), cerita bergambar yang lucu (Wojowasito, 1985;75). McCloud (2001)
dalam buku Understanding Comics yang unik, karena disusun dalam gaya
penceritaan buku komik, gambar-gambar serta lambanglambang dan narasi disusun
sebagaimana dalam sebuah format buku komik (McCloud, 2001;9)
Pada dasarnya, komik merupakan karya seni perpaduan
antara seni rupa dengan karya sastra, yang di dalamnya terdapat bentuk-bentuk
visual atau gabungan bentuk visual dengan keterangan verbal. Oleh karena itu
komik sering dianggap sebagai karya sastra bergambar, dan untuk membedakan
komik bersambung dengan komik lengkap, ungkapan Ingris Co-mic-strips dan
Comic-book praktis untuk digunakan karena tidak menimbulkan kekaburan makna.
Comic-strips merupakan komik bersambung yang dimuat pada surat kabar, sedangkan
comik-book atau buku komik adalah kumpulan cerita bergambar yang terdiri dari
satu atau lebih judul dan tema cerita.
·
Manga
Secara umum manga diartikan sebagai komik made in
Japan. Manga bukan lagi menjadi sesuatu hal yang asing bagi generasi muda dan
anak-anak pencinta komik dan animasi. Manga sebagai bentuk kesenian visual dari
Jepang tidak hanya memiliki kualitas gambar yang baik dan unik, namun juga
sangat ditunjang dengan kekutan dan keragaman cerita yang menarik. Manga adalah
istilah yang digunakan untuk menyebut komik Jepang. Kata manga digunakan
pertama kali oleh seorang seniman bernama Hokusai Katsushika (1760-1849) dan
berasal dari dua huruf Cina yaitu kata manga yang artinya gambar manusia untuk
menceritakan sesuatu. Manga pertama kali muncul pada abad ke18 dengan buku
komik yang berjudul ‘Kibyoushi’. Dalam sejarah manga, yang tidak boleh
dilupakan adalah peranan Osamu Tezuka yang dikenal sebagai “God of Manga”.
Tetsuwan Atom adalah manga karya Osamu Tezuka yang terkenal dan mendunia baik
sebagai manga maupun anime atau kartun Jepang.
Manga adalah istilah yang digunakan untuk menyebut komik
Jepang. Kata “manga” digunakan pertama kali oleh seorang seniman bernama
Hokusai. Sebelum orang mengenal manga, pada abad pertengahan di Jepang sudah
dikenal seni menulis cerita disertai lukisan untuk menggambarkan jalannya
cerita. Seni menulis cerita disertai lukisan untuk menggambarkan cerita itupun
belum berbentuk buku, tapi masih dalam bentuk gulungan kertas yang disebut
emakimono. Manga artinya kira-kira gambar manusia untuk menceritakan sesuatu.Manga
mulai membanjiri pasar Jepang antara tahun 1940–1960-an, dengan ketebalan 64-
96-128 hingga 192 halaman. Walau dicetak pada kertas berkualitas rendah, produk
ini disambut oleh anak-anak dengan sangat antusias. Dan di antara komikus saat
itu, Osamu Tezuka tampil ke depan melalui karya-karya fiksi ilmiahnya.
Jenis-jenis manga yaitu: Shoujo Manga, Shounen Manga,
. Doujinshi Manga.
·
Teks Visual Komik Naruto
1. Pelukisan
Adegan
Naruto adalah manga yang
paling terkenal dan naik daun di seluruh dunia. Sejak awal penerbitannya,
Naruto telah memancing permunculan ribuan situs berisi informasi rinci,
panduan, dan forum internet tentang manga ini. Beberapa situs terkenal muncul
setelah versi Inggrisnya diterbitkan pada bulan Agustus 2003. Selain itu,
muncul pula situs-situs yang menyediakan manga versi Jepang yang telah
diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.
2. Cara
Baca Komik Naruto
Pada cara membaca, ukuran frame
memberikan jeda dan menentukan urutan membaca komik Naruto. Jika ada frame yang
memiliki ukuran sama, maka frame dibaca berurutan baik yang terjadi secara
vertikal maupun horisontal sebelum pindah ke frame dengan ukuran yang berbeda.
Teknik membacanya tetap menggunakan pola dari kanan ke kiri dan dari atas ke
bawah. Seni Jalanan (Street Art) (Sebagian
laporan penelitian I Nyoman Mahayasa tentang Grafiti di Denpasar). Seni jalanan atau biasa disebut juga
street art kemudian muncul menjadi istilah yang dipakai untuk membedakan dengan
karya seni yang dibuat dan ditempatkan dijalanan dengan meminta ijin kepada
pihak yang berwenang. Seni jalanan merupakan perkembangan dari grafiti yang
biasa di buat dengan cat semprot (aerosol) kemudian berkembang menggunakan
berbagai teknik pembuatan misalnya: stensil, stiker, tempelan kertas/ whet
pasting, poster atau campuran dari berbagai bentuk seni. Penempatanya dilakukan
tanpa ijin dari pihak berwenang dan dilakukan dengan sengaja (misalnya: gerbong
kereta, pos polisi, papan reklame dan lain-lain) terkadang memicu timbulnya
perkara. Perkara inilah yang sering pelaku seni jalanan dianggap sebagai pelaku
vandalisme.
·
Grafiti
Grafiti (juga dieja grafitty atau grafitti) adalah
kegiatan seni rupa yang menggunakan komposisi warna, garis, bentuk dan volume
untuk menuliskan kalimat tertentu di atas dinding. Alat yang digunakan biasanya
cat semprot kaleng. Menurut Wikipedia (n.d., 19 Januari 2007), graffti adalah
salah satu tulisan ataupun penanda yang dengan sengaja dibuat oleh manusia pada
suatu permukaan benda, baik itu milik pribadi ataupun publik. Sebuah graffti
dapat berupa sebuah karya seni, gambar ataupun kata-kata. Ketika suatu graffti dikerjakan
tanpa sepengetahuan pemilik properti, maka graffti tersebut dapat dikategorikan
sebagai sebuah vandalisme. Graffti sendiri telah ada paling tidak sejak
peradaban kuno seperti zaman Yunani Klasik dan Kerajaan Roma.
·
Sejarah Grafiti
Perkembangan zaman dan perubahan tatanan masyarakat
ternyata memberi dampak yang cukup besar bagi perkembangan seni grafiti. Yang
awalnya hanya sebagai satu media komunikasi, lambat laun berkembang menjadi
satu media perlawanan dan protes. Mulai terpisahkannya masyarakat dalam bentuk
kelas-kelas, dan membuat satu kelas tertentu merugikan kelas yang lain. Karena
perlawanan secara fisik dari golongan yang lemah dirasa dan secara nyata sering
mengalami kekalahan, maka pada akhirnya grafiti muncul sebagai satu bentuk
perlawanan baru dari kelas atau golongan yang kalah. Tak sekedar sebagai bentuk
baru dalam perlawanan, grafiti juga menjadi media pembangunan kesadaran akan
bagi kelas sosial masyarakat yang tergilas oleh kelas yang lain. Seolaholah
grafiti memberikan kita satu pembelajaran dan ajakan untuk melihat kondisi
realitas sosial yang ada, dan tidak diam menghadapi hal itu. Contoh kita sering
melihat cuplikan video yang di tayangkan di televisi pada masa sebelum orde
baru, ada tulisan yang berbunyi “freedom” di tembok-tembok yang pada saat itu
menjadi media suara mereka karena teknologi pada saat itu belum seperti
sekarang.
·
Perkembangan Grafiti
Pada perkembangannya, grafiti di sekitar tahun 70-an
di Amerika dan Eropa akhirnya merambah ke wilayah urban sebagai jati diri
kelompok yang menjamur di perkotaan. Karena citranya yang kurang bagus, grafiti
telanjur menjadi momok bagi keamanan kota. Alasannya adalah karena dianggap
memprovokasi perang antar kelompok atau gang. Selain dilakukan di tembok
kosong, grafiti pun sering dibuat di dinding kereta api bawah tanah.
Grafiti sekarang mulai memasuki masa keemasannya,
selain di Indonesia sendiri, di Ameri-ka atau tepatnya di Brooklyn Museum
sering diadakan pameran grafiti yang kini disebut juga sebagai seni
kontemporer. Berbagai bomber profesional seperti Crash, Lee, Daze, Keith Haring
dan Jean-Michel Basquiat menjadi pahlawan dalam seni grafiti. Sekitar 22 bomber
ikut berpartisipasi dalam pameran ini. Lain di Amerika lain pula di Australia.
Negara yang satu ini bahkan menjadikan grafiti sebagai lomba publik yang selalu
memiliki jumlah peserta yang sangat banyak. (“Grafiti” di Jalanan Ibu Kota’’,
Harian Kompas, Jumat, 29 April 2005)
·
Grafiti pada Zaman Modern
Pada masa modern sekarang ini, grafiti pun mengalami
satu perkembangan dalam tujuanya. Untuk menunjukan satu identitas pribadi,
seperti yang dilakukan oleh seorang Amerika yang bernama Taki. Ia selalu
menuliskan namanya, entah itu didalam kereta atau di dinding bis kota, yang
kemudian membuat Taki menjadi terkenal. Hal tersebut kemudian diikuti oleh
banyak anak muda disana, yang seperti terinspirasi oleh Taki. Hal ini karena
hanya dengan melakukan coretan nama ditempat-tempat umum, maka dengan mudah
dapat menjadi terkenal. Grafiti juga dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu
yang sekali lagi hanya bermotifasi untuk dapat menjadi dikenal kelompoknya.
·
Antara Seni, Perlawanan dan Vandalisme
Seni adalah satu bentuk ekspresi kreatif manusia. Seni
juga sangat sulit diartikan atau dinilai. Setiap individu, baik sang seniman
ataupun penikmat seni itu sendiri, bisa membuat satu parameter untuk menentukan nilai dan artian dari
sebuah karya seni. Ini menunjukan bahwa kebebasan adalah tuhan dari seni itu
sendiri (www.prp-indonesia.org - Grafiti Action, diakses 14 April 2007). Dan grafiti yang merupakan satu dari
sekian banyak farian dalam bidang seni. Namun din-ding dan tempat umum yang
digunakan sebagai media seni dari grafiti, membuat banyak orang tidak
menganggap itu sebagai seni, melainkan melihat grafiti sebagai sebuah perilaku
yang merusak sarana dan kepentingan publik.
Vandalisme, adalah satu stigma yang sering
diungkapakan orang terhadap pelaku grafiti maupun grafiti itu sendiri. Pada
hakekatnya, vandalisme sendiri merujuk pada perusakan atas barang milik orang
lain termasuk juga barang yang diperuntukan untuk kepentingan publik. Namun
vandalisme mempunyai aspek emosi dalam melakukanya. Geram dan kesal atau
bahakan hanya sekedar untuk melepaskan kebosanan semata, adalah motif dari
vandalisme. Jelas memang, ketika merusak kepentingan publik dengan muatan emosi
sebagai satu motifasinya, maka bisa kita katakan dia sebagai bentuk dari
vandalisme. Berbeda dengan grafiti yang menjadi bagian dari seni, yang lebih
menekankan pada unsur penyampaian pesan dan kebebasan berekspresi.
·
Grafiti Action Sebagai Sebuah Komoditi
Tak
bisa dipungkiri, bahwa grafiti action telah menjadi satu fenomena tersendiri di
masyarakat. Khusunya bagi anak muda yang umumnya menjadi pelaku grafiti.
Terlepas maksud dan tujuan dari grafiti action tersebut, baik yang pure seni
ataupun yang memang ditujukan sebagai bentuk protes. Namun hal ini seperti
sudah menjadi satu trend tersendiri dikalangan anak muda.
Karena
kondisi seperti ini mempunyai dua sisi yang berbeda bagi grafiti. Grafiti akan
menjadi sangat banyak peminat atau pelakunya, namun disisi lain grafiti seolah-olah
telah menjadi barang dagangan. Untuk yang kedua, tentunya sangat buruk
dampaknya bagi grafiti. Karena grafiti, seperti halnya hakekat dari seni yang
bertujuan untuk ekspresi bebas dan tidak untuk diperjualbelikan. Jika hal ini
terus berlanjut, mungkin kita tak akan heran suatu saat, untuk melihat grafiti
action harus mengeluarkan sejumlah uang.
·
Aliran Grafiti
Aliran
atau gaya dalam grafiti cukup banyak, namun “tag” merupakan salah satu dasar
yang harus dimiliki oleh para bomber. Tag merupakan gaya dalam menulis atau
membuat gambar-gambar atau tulisan sehingga menarik, biasanya para bomber
memiliki ciri khas ma-sing-masing pada tag-nya tersebut. Selain tag ada pula
yang disebut throw-up atau biasa disebut fill-in, ini adalah sebuah teknik
menggambar dengan sangat cepat dengan menggunakan dua hingga tiga warna, di
mana kecepatan menjadi tujuan utama dalam gaya yang satu ini.
Dalam
seni grafiti, terdapat beberapa aliran-aliran yang sering digunakan oleh para
bomber dalam membuat grafiti di tembok-tembok jalanan ibu kota. Berikut ini
adalah sedikit penjelasan dari aliran-aliran grafitti : bubble, wildstyle atau
semi wildstyle, 3D, tagging.
a. Fungsi
Grafiti
Dari berbagai macam jenis
grafiti yang ada, fungsi grafiti pada zaman modern mengalami perkembangan fungsi.
Adapun beberapa fungsi dari Grafiti. (http://www.freemagz .com, diakses 14
April 2007).
- Bahasa rahasia kelompok tertentu.
- Sarana ekspresi
-
Sarana
pemberontakan.
·
Komunitas Grafiti Di Kota Denpasar
Pengaruh
musik R&B, hip-hop, dance dan skate board turut serta menjadi bagian tak
terpisahkan dalam perkembangan grafiiti di Denpasar. Namun Belum ada yang
mengetahui pasti kapan dan dimana grafiti di Denpasar pertama kali ditemukan.
Semenjak tahun 2000 komunitas bomber semakin marak di Denpasar, ini dikarenakan
pengaruh media elektronik, majalah dan internet yang memberikan banyak
informasi tentang gaya hidup remaja saat ini yang kini sering diikuti oleh
remaja yang ada di Denpasar.
Komunitas
grafiti lain diantaranya abilty, flame kidz, U-zack, Socbeker, M2crew,
Hollygan, TRN, 5 Cru, Cyber, ABILITY, TRN, WBA, PEGOK, DOZ, 153, WEBER, Racy,
#2Bomb, Criz, Buble, popeye dan banyak lagi bomber yang meramaikan pembuatan
grafiti. Mereka terbentuk setelah beberapa perkumpulan kecil para pembuat
grafiti di Denpasar, karya-karya mereka kebanyakan hanya berupa tagging
(tag/inisial atau singkatan nama) yang tersebar di beberapa sudut tembok yang
ada di kota Denpasar.
·
Motivasi Membuat Grafiti
Berdasarkan
hasil wawancara yang dilakukan pada para bomber pada tanggal 14 Januari 2008,
diketahui bahwa motivasi untuk membuat grafiti tidak lain adalah untuk
memperindah kota di samping faktor sekedar menunjukkan dirinya melalui grafiti.
Hal ini diungkapkan oleh Cory. Tentu pendapat ini masih menimbulkan perdebatan
dalam mengidentifikasikan tentang keindahan kota. Mereka berpendapat bahwa
kebersihan tidak relevan dengan keindahan. Tembok yang dicat putih bukanlah
keindahan, tetapi kebersihan. Bersih bagi mereka belum tentu indah, sedangkan
indah bisa dimaknai dengan bersih.
Grafiti
merupakan suatu bentuk karya seni yang telah merambah ke sejumlah kota besar di
Indonesia. Karya grafiti telah mengalami sejumlah perkembangan, dari yang
awalnya hanya sekedar corat-coret, kini menjadi lebih artistik dan memiliki
nilai seni. Kehadiran grafiti di Denpasar memiliki kontroversial. Masyarakat
menilainya dari dua sisi, semakin memperindah kota atau semakin memperburuk
kota. Perkembangannya kini apakah Grafiti yang sudah meng-arah pada bentuknya
yang artistik (tidak sekedar corat-coret) mampu memberikan keseimbangan
lingkungan secara visual maupun perannya dalam berhubungan dengan budaya maupun
masyarakat sosial setempat.Penelitian ini juga bermaksud untuk mengetahui
motivasi dari para pembuat grafiti, yang biasa disebut bomber. Oleh karena
itulah, penilaian keburukan citra bersih tidak disama-ratakan kepada semua bentuk
grafiti. Ada grafiti yang memang benar-benar bertujuan untuk memperindah kota,
tetapi ada juga grafiti yang memang untuk merusak yang indah dan baik. Melihat
tujuan grafiti artistik seperti di atas, maka pemilihan tempat pun direncanakan
sebaik mungkin. Tembok yang tak terawat terlebih pada jalan-jalan utama atau
strategis mereka timpa dengan grafiti artistik.

Komentar
Posting Komentar