BAB V - Aliran - Aliran Seni Rupa Modern

 

Aliran Seni Rupa

·         Pengertian Aliran dalam Seni Rupa

Aliran, gaya, isme, mazhab, dan paham, adalah sebutan-sebutan yang kerap dipakai dalam seni rupa. Aliran, selanjutnya kata ini dipilih sebagai kata yang mewakili gaya, isme, mazhab, maupun paham dalam bahasan tulisan ini. Aliran, seperti dalam istilah bidang lain, sama dengan ‘haluan pendapat” (KUBI, 1991: 31). Haluan pendapat tersebut, dalam karya seni rupa, akan tampak dalam tampilan karya. Seseorang yang berpendapat bahwa suatu objek harus digambarkan secara nyata, tanpa ditambah-tambah, tanpa dilebih-lebihkan, dalam lukisan (misalnya) yang dibuat oleh orang yang berpendapat seperti itu akan tampak gambaran paham tersebut. Karena seni adalah gambaran pikiran dan perasaan senimannya, maka tak ada satu karya senipun yang steril dari pikir, rasa, dan kesadaran lingkungan seniman pelakunya. Aliran, pada awalnya hanya gambaran ciri milik individu tertentu. Aliran, bisa juga awalnya merupakan gambaran ciri kelompok tertentu. Aliran, mungkin juga awalnya adalah gambaran ciri sebuah keadaan, kondisi zaman.

Pada kenyataannya, di dalam seni rupa Barat, muncul dan tenggelamnya aliran sejalan dengan keadaan yang terjadi secara sosial. Reaksi terhadap kaum bangsawan yang lebih suka kemewahan, misalnya, memunculkan aliran yang mengusung penggambaran kondisi nyata di luar istana. Semua yang serba mewah, oleh seniman yang menentang keberadaan kaum istana, dianggap tidak menggambarkan dan mewakili keadaan sebenarnya. Sejalan dengan ciri masyarakat modern Barat pada saat aliran-aliran itu mulai muncul, banyak seniman yang kemudian berganti-ganti aliran sesuai dengan pola dasar pencarian yang tanpa henti. Pablo Picasso, misalnya, salah seorang pelukis Barat terkenal, gaya lukisannya berulang kali berubah hingga dia menenukan aliran yang paling mantap untuk ciri dirinya: aliran kubis (cubisme). Di Indonesia, misalnya pelukis Affandi, pada periode melukis tertentu dia menggunakan gaya naturalistis untuk melukis tokoh-tokoh yang dekat dengannya, ibu misalnya. Tetapi kemudian Affandi berubah menjadi expressionist seperti Oskar Kokoschka atau Vincent van Gogh.


 

Jenis – Jenis aliran seni rupa modern sebagai berikut:

1.      Neoklasisime

Aliran seni rupa yang dikenal dengan nama Neoklasikisme atau biasa pula disingkat saja dengan Klasikisme adalah corak karya seni rupa dan arsitektur yang populer pada akhir Abad ke-18 dan awal Abad ke-19. Corak ini merefleksikan keinginan untuk menghidupkan kembali semangat dan bentuk seni rupa klasik Yunani-Romawi. Keinginan ini tidak dapat dilepaskan pada ditemukannya reruntuhan kota-kota kuno Romawi seperti Herculaneum dan Pompeii serta pengaruh buku yang ditulis oleh sejarawan seni rupa Jerman Johann Winkelmann (1717-1768) yang menegaskan bahwa perupa seyogyanya meniru cara orang Yunani dalam melukiskan bentuk-bentuk ideal. 

Tradisi peniruan terhadap alam dalam berkarya seni rupa atau yang populer dengan istilah “seni rupa mimesis” telah dilakukan oleh orang Yunani ratusan tahun sebelum Masehi.  Pada masa klasik kebudayaan Yunani, perupa (pematung) melakukan idealisasi bentuk dalam mereka meniru alam.  Karena itu karya seni rupa (baca patung manusia) yang diciptakannya memiliki anatomi yang ideal. Pada masa kejayaan Romawi selain dihasilkan patung yang diidealisasi, juga dihasilkan patung yang menggambarkan obyeknya secara apa adanya, khususnya terhadap patung potret.

 

2.      Romantisme

Romantisisme adalah sebuah gerakan seni, sastra dan intelektual yang berasal dari Eropa Barat abad ke-18 pada masa Revolusi Industri. Gerakan ini sebagian merupakan revolusi melawan norma-norma kebangsawanan, sosial dan politik dari periode Pencerahan dan reaksi terhadap rasionalisasi terhadap alam, dalam seni dan sastra. Gerakan ini menekankan emosi yang kuat sebagai sumber dari pengalaman estetika, memberikan tekanan baru terhadap emosi-emosi seperti rasa takut, ngeri, dan takjub yang dialami ketika seseorang menghadapi yang sublim dari alam. Gerakan ini mengangkat seni rakyat, alam dan kebiasaan, serta menganjurkan epistemologi yang didasarkan pada alam, termasuk aktivitas manusia yang dikondisikan oleh alam dalam bentuk bahasa, kebiasaan dan tradisi. Ia dipengaruhi oleh gagasan-gagasan Pencerahan dan mengagungkan medievalisme serta unsur-unsur seni dan narasi yang dianggap berasal dari periode Pertengahan. Nama "romantik" sendiri berasal dari istilah "romans" yaitu narasi heroik prosa atau puitis yang berasal dari sastra Abad Pertengahan dan Romantik.

 

3.      Realisme

Realisme di dalam seni rupa berarti usaha menampilkan subjek dalam suatu karya sebagaimana tampil dalam kehidupan sehari-hari tanpa tambahan embel-embel atau interpretasi tertentu. Maknanya bisa pula mengacu kepada usaha dalam seni rupa untuk memperlihatkan kebenaran, bahkan tanpa menyembunyikan hal yang buruk sekalipun.Pembahasan realisme dalam seni rupa bisa pula mengacu kepada gerakan kebudayaan yang bermula di Prancis pada pertengahan abad 19. Namun karya dengan ide realisme sebenarnya sudah ada pada 2400 SM yang ditemukan di kota Lothal, yang sekarang lebih dikenal dengan nama India.Realisme menjadi terkenal sebagai gerakan kebudayaan di Prancis sebagai reaksi terhadap paham Romantisme yang telah mapan di pertengahan abad 19.

 

4.      Impressionisme

Impresionisme adalah sebuah aliran yang berusaha menampilkan kesan-kesan pencahayaan yang kuat, dengan penekanan pada tampilan warna dan bukan bentuk. Namun kalangan akademisi ada yang justru menampilkan kesan garis yang kuat dalam impresionisme ini. Aliran Impresionisme muncul dari abad 19 yang dimulai dari Paris pada tahun 1860an. Nama ini awalnya dikutip dari lukisan Claude Monet, "Impression, Sunrise" ("Impression, soleil levant"). Kritikus Louis Leroy menggunakan kata ini sebagai sindiran dalam artikelnya di Le Charivari.Karakteristik utama lukisan impresionisme adalah kuatnya goresan kuas, warna-warna cerah (bahkan banyak sekali pelukis impresionis yang mengharamkan warna hitam karena dianggap bukan bagian dari cahaya), komposisi terbuka, penekanan pada kualitas pencahayaan, subjek-subjek lukisan yang tidak terlalu menonjol, dan sudut pandang yang tidak biasa.Pengaruh impresionisme dalam seni rupa juga merambah ke bidang musik dan sastra. Ada banyak hal yang menyebabkan impresionisme bisa dianggap sebagai pelopor gerakan seni rupa modern lain. Antara lain berhasil mendobrak keterpakuan seni terhadap subjek yang akan dilukis. Hal ini bisa dilihat dari contoh karya Manet yang menganggap moral bukanlah sesuatu yang harus terlalu dipertimbangkan di dalam seni rupa, sebab inti dari lukisan adalah lukisan itu sendiri, bukan pesan yang akan disampaikannya. tetapi bukan berarti hal itu membuat dunia lukis menjadi dunia yang cabul, sebab kevulgaran itu sendiri bukanlah tujuan pelukis impresionisme, hanya saja jika ketelanjangan diperlukan, katakanlah untuk membantu komposisi, maka hal itu memang harus dilukiskan.

 

5.      Post Impressionisme

Post-Impresionisme merupakan gerakan seni rupa pada tahun 1880-an. Sesuai dengan namanya, gerakan itu merupakan kelanjutan dari Impresionisme. Seniman-seniman Post-Impresionisme pertama-tama mendapat pengaruh dari gerakan Impresionisme, tetapi kemudian menolaknya, kecuali beberapa unsurnya yang mendasar seperti penggunaan warna yang cemerlang atau penggunaan warna-warna cerah.Post-Impresionisme bukan merupakan gaya tunggal, melainkan meliputi beberapa kecenderungan gaya. Beberapa seniman Post-Impresionis, seperti Cezanne dan Seurat menghidupkan kembali unsur Klasikisme. Seniman yang lain, misalnya Vincent Van Gogh dan Paul Gauguin, memasukkan unsur Romantikisme dalam gayanya. Selain itu, pelukis lain pada era ini diantaranya Georges Seurat dan Henri de Toulouse-Lautrec.Dalam Post-Impresionisme berkembang beberapa gerakan, misalnya Divisionisme, yang disebut juga Neo-Impresionisme atau Pointilisme, dan Simbolisme atau dalam seni lukis disebut Sintetisme. Beberapa Seniman Post-Impresionisme yang lain mengembangkan gayanya sendiri secara lebih bebas.

 

6.      Cubisme

Kubisme adalah sebuah gerakan seni avant-garde abad ke-20 yang dirintis oleh Pablo Picasso dan Georges Braque. Gerakan seni ini membuat revolusi dalam lukisan dan pahatan Eropa, dan menginspirasi gerakan sejenis dalam musik dan sastra. Cabang pertama kubisme, yaitu Kubisme Analitis, adalah gerakan seni radikal dan berpengaruh yang muncul antara 1907 dan 1911 di Prancis. Pada fase kedua, Kubisme Sintetis, gerakan ini menyebar dan masih ada sampai sekitar tahun 1919, ketika gerakan Surealisme mulai dikenal masyarakat. Sejarawan seni Inggris, Douglas Cooper menjelaskaan tiga fase Kubisme dalam bukunya, The Cubist Epoch. Menurut Cooper ada yang namanya "Kubisme Awal" (1906-1908) ketika gerakan ini mulai dikembangkan di studio Picasso dan Braque; fase kedua disebut "Kubisme Tinggi" (1909-1914) ketika Juan Gris muncul sebagai seniman berpengaruh; dan akhirnya "Kubisme Akhir" (1914-1921) sebagai fase terakhir Kubisme sebagai gerakan avant-garde radikal.[1]

 

Estetika Filosofis

Estetika filosofis disebut juga metacriticism. Ia, seperti disebut oleh para ahli filsafat, berisi analisis atau kupasan tentang pengertian-pengertian yang mereka gunakan ketika membuat pertanyaan-pertanyaan ihwal seni. Pertanyaan, penafsiran, dan penilaian seni merupakan bahasan yang mendasar. Ia tidak bertalian dengan penggubahan karya seni, tetapi dengan pertanyaan-pertanyaan maknawi, seperti “keindahan”, “simbolis”, “representatif”, “baik”, “sahih”, dan lain-lain, ketika kata tersebut diterapkan dalam bahasan seni. Berbeda dengan filsafat pada umumnya yang banyak memperhatikan keindahan dan keagungan aspek alam, metecriticism cenderung mengabaikan alam, ia adalah filsafat kritik seni, seni ciptaan manusia (Cayne, 1971). 

Beberapa teori estetis yang dikelompokkan ke dalam estetika filosofis adalah sebagai berikut. Attitude Theory (teori sikap) dipelopori oleh Edward Bullough. Teori Bullough menyangkut konsep psychical distance (jarak psikis) yang menunjuk keadaan psikologis khusus, yaitu berkaitan dengan kegiatan yang disebut dengan istilah cerapan tak memihak (disinterested perception). Keindahan sebuah objek adalah hasil pikiran penikmat, penonton, karena semua objek adalah objek estetis. Nilai sesuatu sangat tergantung kepada sikap subjek, penikmat.

Teori estetis yang lain adalah evaluative theories. Beberapa teori penilaian (evaluative theory) ini di antaranya: 

1.      Intuitionism: teori ini menegaskan bahwa penilaian sesuatu itu indah, baik, buruk, menunjuk kepada sesuatu yang bernilai non-empiris, hanya bisa dinilai secara intuitif. Teori keindahan milik Plato merupakan versi awal intuitionism ini. 

 

2.      Subjectivism: agark berbeda dengan intuitionism. Penilaian indah, baik, atau buruk itu me-nunjuk bahwa bila sesuatu dinilai indah, sesuatu itu, paling tidak, menyenangkan pencerapan; baik bisa berarti “saya menyukainya”; dan buruk mungkin bermakna “saya tidak menyetujuinya”, dan sebagainya.

3.      Emotivism: sebuah pandangan yang mengandung penilaian bahwa indah, baik, atau buruk itu hanya menunjuk pada perasaan pengguna kata tersebut. Keindaha misalnya, adadalam mata pelihat. Konsep ini hampir sama dengan teori Bullough. 

4.      Instrumentalism: dalam teori ini pendefinisian istilah penilaian yang digunakan dalam meng-ukur keindahan sangat dihindari. Kerja seni yang baik, dalam pandangan paham ini, adalah ibarat membuat suatu pengalaman estetis yang berharga bagi penikmat. Berolah seni adalah kegiatan mimesis (meniru). Tesis ini adalah buah pikir Plato. Peniruan, menurut Plato, bukanlah meniru sesuatu yang kasat mata, melainkan sesuatu yang ada di balik dunia nyata. Bentuk-bentuk hasil tiruan alam nyata oleh Plato ditempatkan dalam posisi yang lebih rendah, hanya sekadar techne.

 

Estetika Ilmiah

Estetika ilmiah (scientific aesthetics) meliputi pertanyaan ilmiah yang bisa dijawab melalui kegiatan empiris, menggunakan perangkat percobaan psikologi. Oleh karen itu, estetika ilmiah biasa juga disebut estetika psikologis. Dikenal empat golongan pendekatan dalam estetika ilmiah: psikologi eksperimen, psikologi introspektif, psikologi gestalt, dan psikoanalisa. Gustav Fechner dianggap sebagai penggagas estetika eksperimental, yang mencoba meme-cahkan persoalan-persoalan estetika melalui metode laboratoris. Eksperimen Fechner meliputi: penemuan tentang pilihan warna-warna, bentuk, suara, dan sejenisnya, serta menetapkan komposisi, dan percobaan tentang persoalan warna.

 

Subjektivisme dalam Lukisan Cubism

Sejumlah lukisan gaya cubism dari beberapa pelukis yaitu Pablo Picasso, Georges Braque, Fernand Leger, Juan Gris, Charles Edouard Jeanneret, dan Ameede Ozenfant akan mejadi bagian bahasan dalam paparan ini. Pemilihan karya-karya bahasan dilakukan secara acak dari sejumlah besar lukisan gaya cubism yang cukup dikenal. Penunjukan karya-karya yang dianggap “populer” adalah dengan mempertimbangkan kekerapan lukisan dimaksud sebagai contohan dalam sejumlah bahasan buku. Lukisan bergaya cubism memiliki bahasa ungkapan yang khas. Dalam menerjemahkan alam sebagai objek-tiruan untuk lukisan, bentuk digambarkan dalam kesan datar (flat). Kesan kedalaman benda tidak lagi mengikuti cara pandang gaya pelukisan natural. Sesuatu yang jauh diletakkan di bagian atas bidang gambar. Pola sederhana ini telah lama menjadi cara ungkap milik hampir semua manusia, baik manusia purba, tradisi, maupun anak-anak.

Penggagas gaya pelukisan cubism adalah Pablo Picasso dan Georges Braque. Pada awal pencariannya dalam wilayah olah gaya baru ini, mereka tidak mendapat dukungan dari seniman-seniman lain pada masanya. Tetapi sejak tahun 1920, gaya mereka mulai diikuti pelukis-pelukis muda Paris, yang kemudian mempengaruhi perkembangan baru di Italia, Jerman, Rusia, dan Inggris. Perkembangan awalnya dimulai dengan lukisan besar karya Pablo Picasso: Les Demoiselles d’Avignon (1907). Lukisan lain yang juga sangat dikenal sebagai contohan dalam pembahasan cubism adalah Grande Denseuse yang sangat keras jejak tiruan topeng Afrika dalam tampilan bentuknya.

Seni rupa modern seperti diakui oleh pendukungnya, adalah gambaran manusia modern. Seniman modern, begitu juga umumnya manusia modern, memiliki sifat yang individualis. Produk kesenian yang dihargai adalah produk yang secara pasti menunjukkan ciri khas individu, bukan yang mencirikan kolektivitas. Oleh karena itu, senimanmodern terus-menerus mencari bentuk tampilan karya yang berciri pribadi. Memang, pada akhirnya, seniman modern lebih mementingkan kepuasan diri sendiri. Untuk menunjukkan ciri pribadi, seniman modern membangun suatu tata autran, konsep berkarya untuk melahirkan karya yang berbeda dari karya yang lain. Pada batas-batas tertentu banyak pelukis yan mengikuti konsep berkarya tersebut. Kemudian, hal itu melahirkan kecendrungan-kecenderungan.

 

Pengelompokan Aliran Seni Rupa Modern

Seperti telah disebutkan, Jung membagi kelompok aliran seni rupa modern berdasarkan perbedaan dan persamaan kejiwaan yang menjadi ciri tampilan aliran tertentu. Secara garis besar, aliran-aliran seni rupamodern terbagi atas empat kelompok, seperti berikut. 

1.      Kelompok Realisme, Naturalisme, dan Impressionisme 

Seniman - seniman yang termasuk ke dalam kelompok aliran ini, meminjam konsep hasil kajian Jung, dalam kegiatan berkarya mengutamakan unsur pikir. Peniruan terhadap alam mereka lakukan dalam peniruan dunia-luar. Mereka mencontoh alam secara nyata. Kenyataan yang mereka tangkap dalam kanvas adalah kenyataan yang tidak memerlukan penafsiran penikmat. Para realist mengangkat kenyataan kejadian; para naturalist meniru kenyataan alam; dan para impressionist --dimasukkan ke dalam kelompok ini karena mereka melukis dengan berusaha menangkap kenyataan cahaya. Dunia luar objek adalah kondisi nyata yang secara visual tidak memerlukan penafsiran tertentu. Para seniman realist dan naturalist lebih menampilkan sikap extravert, karena mereka mengutamakan peniruan dunia-luar alam. Agak berbeda dengan kaum impressionist,meskipun mereka mengacu bentuk objek, objek tidak selalu sesuatu yang tampak sebagai kenyataan. Sikap objektif mereka dibarengi sikap subjektif dalam menangkap objek untuk digambarkan kembali. Hal tersebut menunjukkan gambaran dalam dari kenyataan luar. 

 

2.      Kelompok Surrealisme dan Futurisme 

Kelompok seniman ini, menurut Jung, lebeih dipengaruhi perasaan dalam mengolah objek karyanya. Keinginan melebih-lebihkan penggambaran sesuatu menjadi ciri tampilan karya mereka. Mereka menunjukkan perhatian terhadap nilai-nilai spiritual dalam menanggapi dunia luar alam.

 

3.      Kelompok Fauvisme dan Expressionisme 

Peranan sensasi sangat kuat dalam konsep kegiatan kelompok ini. Seniman-seniman yang menganut gaya berkarya kelompok ini banyak menampilkan unsur kejutan-kejutan,ekspresi yang mengalir deras. Karya mereka menampilkan kerinduan terhadap sensasi rasa perseorangan senimannya. Kegiatan berkarya seniman-seniman kelompok ini dilatari oleh sikap objektif dan subjektif. Sensasi yang memotori sikap mereka, pada kelompok yang dikuasai sikap extravert, sangat dibatasi keadaan objek. Tetapi, seperti yang ditemukan oleh Jung, reaksi pada objek bukan pada kenyataannya, bukan pula pada tampilan yang dangkal, melainkan pada nilai sensasi. Kualitas rasional dan spiritual di kesampingkan. Objek sebagai hasil pengalaman penginderaan, ditampilkan dengan titik berat pada tujuan sensasi. Kelompok yang bersikap introvert, lebih dikenal dengan sebutan haptic. Tipe ini, tentu saja, lebih banyak berupa sifat bawaan.

 

 

4.      Kelompok Cubisme. Constructivisme, dan Functionalisme 

Konsep berpikir seniman pada kelompok ini, menurut Jung, sangat dipengaruhi intuisi. Intuisi menjadi titik pusat perhatian mereka. Mereka menunjukkan keasyikan mengolah bentuk-bentuk objek yang mujarad (abstrak). Kelompok ini bisa dikatakan cenderung menampilkan sikap introvert. Intuisi mereka, meskipun menjadi penggerak utama cara pikir mereka, tidak langsung berhubungan dengan bentuk eksternal di luar ekspresi. Di antara mereka ada juga yang bisa disebut sebagai kelompok yang bersikap extravert. Hal itu bisa dilihat dalam karya mereka yang berbentuk bangunan fungsional dan dalam sejumlah karya seni terap.

 

Seni rupa modern pada dasarnya adalah gambaran pola berpikir masyarakat modern. Tetapi, secara nyata, tidak semua masyarakat modern mendukung keberadaan model tampilan karya seni rupa tersebut. Hanya sebagian kecil masyarakat saja, yaitu masyarakat tertentu, yang bisa menerima kehadirannya. Banyak isu dan konsep berpikir yang melatarbelakangi kehadiran jenis-jenis karya seni rupa modern, yang tidak mudah bahkan tidak bisa dicerna oleh masyarakat kebanyakan. Oleh karena itu, seniman modern dan karyanya, kerap menjadi bahan perdebatan.

 Menurut para ahli, jarak yang muncul antara karya seni rupa modern dengan masyarakat dise-babkan karena kesenjangan cara berpikir. Apa yang dikerjakan oleh seniman-seniman modern yang mengusung segala keinginbebasannya, lebih banyak tercerabut dari pola pikir masyara-kat umumnya. Pencarian yang terus-menerus, kebaruan, dan keunikan merupakan tiga hal yang kerap dijadikan patokan berkarya oleh para seniman modern.

 

 


Komentar