Tinjauan Seni dan Desain - BAB II Fungsi Seni
BAB II
FUNGSI SENI
A.
Fungsi
Seni Secara Budaya
1.
Posisi
Seni dalam Lingkup Budaya
Dalam
pembahasan antropologi, kata budaya berarti “keseluruhan sistem pemikiran,
tindakan, dan karya manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yang menjadikan
manusia milik melalui pembelajaran” (Koentjaraningrat, op.Cit.). Konsep yang
dikemukakan oleh Honigmann dalam The World of Man (1959) dikutip oleh Koentjaraningrat.
Honigman percaya bahwa budaya mencakup tiga unsur: 1) seperangkat gagasan dan
seperangkat sistem konsep; 2) aktivitas kompleks; 3) benda yang dibuat oleh
manusia.
Unsur
kebudayaan yang pertama berupa ide, gagasan, norma, peraturan, dan nilai.
Sifatnya abstrak, mujarad, karena berada dalam alam pikiran warga masyarakat.
Namun, sejalan dengan ragam tulis dan rekam, sistem gagasan kini telah banyak
yang disimpan dalam bentuk buku, pita suara, cakram (diskette, harddisk, CD,
LD, VCD, DVD, CD-R/RW, DVD-R/RW, dan kini Bluray [dengan berbagai format dan
spesifikasinya]), film (pita seluloid), maupun film mikro dan film digital,
flashdisk, dan SSD. Honigmann menyebut unsur pertama sebagai kebudayaan ideal,
sedangkan Koentjaraningrat menyebutnya sebagai adat. Kebudayaan ideal atau adat
ini merupakan satu kesatuan yang utuh membentuk --apa yang disebut oleh para
antropolog dan sosiolog- - “sistem kebudayaan (cultural system)”.
Unsur
kedua adalah rangkaian aktivitas manusia yang berinteraksi (berinteraksi)
dengan orang lain. Kegiatan kompleks ini dimodelkan pada elemen pertama (sistem
gagasan). Berawal dari elemen kedua ini, maka terbentuklah sistem sosial.
Bentuknya nyata dan dapat dirasakan, diamati, dan direkam. Unsur ketiga
memiliki bentuk yang terlihat lebih jelas, yaitu semua hasil aktivitas manusia
tampak dalam bentuk benda yang dibuat oleh manusia. Ini adalah elemen budaya
yang paling terlihat, biasanya disebut budaya olahraga. Diantara ketiga unsur
budaya yang disebutkan tadi, yang paling mudah diamati dan dipelajari adalah
budaya hasil olah raga. Seni merupakan bagian dari budaya olahraga ini, karena
hasil dari segala kegiatan di bidang seni memiliki tampilan visual yang
terlihat. Karena aktivitas yang kompleks, budaya olahraga masih dikaitkan dengan
sistem ideologis. Ini adalah sistem ideologis yang menjadi dasar dari semua
aktivitas dan hasil manusia. Ini berlaku untuk semua karya seni.
Budaya
tradisi yang terkait dengan kondisi lingkungan suatu tempat, kini, cenderung
kurang mendapat perhatian. Sehingga, ketika seseorang mengolah budaya:
kesenian, teknologi, pembangunan, misalnya, kerap hasil olahannya tidak sejalan
dengan keberadaan masyarakat pendukungnya. Hasilnya bisa menggambarkan
kekurangcocokan, ketercerabutan, dengan nilai yang telah dimiliki oleh masyarakat.
Salah satu contoh yang dekat adalah lingkungan pasar, pasar senggol, lahan
kehidupan ekonomis masyarakat. Di pasar ini bisa terhimpun aneka transaksi
hasil olah budaya masyarakat yang sangat lekat dengan kebutuhan hidup
sehari-hari: pemasaran hasil kesenian, hasil keterampilan rumahan, atau pun hal
lainnya yang erat terkait dengan kebutuhan wong cilik.
2.
Penjajahan
Gaya Baru
Meskipun
masyarakat Jepang dapat menggunakan berbagai penemuan teknologi tinggi untuk
mengembangkan diri, mereka tetap mengasosiasikan diri dengan berbagai kesenian
tradisional. Oleh karena itu, mereka disebut negara modern oleh dunia luar
dengan tetap menghormati properti dasarnya. Budaya membaca yang mereka
adaptasikan dalam kehidupan sehari-hari telah memberikan kontribusi yang sangat
besar bagi perkembangan seni mereka. Kabuki, ikebana dan kimono adalah nama
acara dan karya seni, dan kemudian menjadi populer di Jepang.
3.
Seni
dan Martabat Negara
Perilaku
cemburu menunjukkan kecemburuan yang sangat mendasar. Masyarakat bahkan
dikendalikan oleh para pemimpin negara. Prestasi olahraga Seringkali disambut
hangat oleh banyak pihak. Berbagai hadiah dan dukungan Diterima langsung oleh
selebritis olahraga. Namun, prestasi bidangnya Seni, sains, dan masyarakat
tidak pernah didukung atas pencapaiannya Komunitas dan pemerintah. Martabat
nasional tampaknya hanya mungkin Jalankan melalui prestasi olahraga. Misalnya keris, membatik, wayang,
tari gamelan dan tari kecak adalah bentuk prestasi Sebuah masyarakat yang tidak
pernah menerima perhatian yang bijaksana. Semoga prestasi itu Sudah menjadi
ciri khas Indonesia, dan Indonesia tidak dimiliki oleh negara lain. Pengenalan
objek Dengan kedatangan tamu asing ke Indonesia, aktivitas tersebut menjadi
begitu intens. Suvenir internasional selalu berupa tas, batik, dan wayang.
Jawa, Matahari dan Gamelan Bali telah belajar di luar negeri. Hal yang sama
berlaku untuk Shadow Puppets dan Golks. Patung Asmart Gaya eksotis juga menjadi
simbol penting untuk meningkatkan kehadiran Indonesia. Namun pengenalan seni
oleh turis asing begitu ampuh Sebagai ciri khas tempat wisata Bali, mereka
lebih mengenal yang namanya Bali daripada dengan namanya. Indonesia. Bali
secara khusus tercatat di peta dunia-salah satu alasannya-karena Keunikan
kegiatan artistiknya.
4.
Wayang Golek Purwa
Oleh
Drs. Jajang Suryana, M.Sn.
Wayang
bisa berarti cerita. Wayang adalah pertunjukan. Wayang juga adalah peraga
(tokoh) dalam cerita. Orang bisa berkata: “Saya suka membaca wayang (cerita);
Saya senang mendengarkan wayang (cerita radio); Saya kerap menonton wayang
(pertunjukan langsung maupun pada layar kaca); Saya terkesan dengan wayang
Gatot Kaca (tokoh cerita). Wayang, seperti kata para ahli, adalah bayangan.
Kalau istilah tersebut diartikan secara terbatas, sebagaimana wujud wayang
kulit, pengertian tersebut menjadi tidak lengkap. Wayang bukan sekadar bayangan
dalam kelir (layar). Wayang adalah bayangan tentang kehidupan manusia, gambaran
kehidupan manusia.
Awalnya,
wayang golek itu Pertunjukan live sepanjang malam. Tanggapan boneka dan ruwatan
(serupa), kemudian melengkapi perayaan, kegiatan selamatan, dan bahkan Perayaan
politik. Dapat diperhatikan bahwa program tersebut adalah siaran, kaset atau
bahkan Televisi yang cenderung mempersingkat waktu siaran mengalami perubahan
Diiringi dengan perjalanan keberadaan wayang. Bahkan jika dunia film berkembang
Animasi, termasuk pemrograman komputer, cerita boneka animasi Muncul sebagai
bagian dari catatan budaya yang memperkaya catatan tanda-tanda kehidupan
manusia. Dan, telah ada pendekatan kinerja yang ekstrim. Saksikan wayang kulit
(arloji Pertunjukan Wayang Kampung Sebelah dan Wayang Onthel yang perlu
ditampilkan) Di layar, sekarang tidak menonton di belakang layar, tetapi di
belakang memanipulasi. Warna saja Sebagai objek pengiring sebagai pengaturan
pertunjukan.
· Wayang Golek
Lahirnya
wayang golek adalah jawaban atas keinginan mempertunjukkan wayang pada siang
hari (Jajang, 1995: 62). Istilah wayang golek, pada awalnya muncul dari sebutan
terhadap boneka yang selalu dihadirkan pada setiap akhir pertunjukan wayang
kulit purwa. Boneka ini dimainkan sebagai penutup acara yang maksudnya untuk
mengajak penonton nggoleki, mencari makna isi pertunjukan yang telah
ditampilkan oleh dalang (Amir, 1991: 79; Wibisono, 1974: 82). Dari kata
nggoleki itulah muncul sebutan wayang golek. Wayang golek awal ini, sebetulnya
hanyalah sebuah boneka kayu yang sama sekali bukan tokoh cerita. Ia hanya
sebuah boneka berbentuk model wanita, tidak menunjuk kepada salah satu tokoh
dalam cerita Ramayana maupun Mahabharata (Yudoseputro, 1994). Wayang golek pertunjukan yang
pertama, bukan wayang golek pelengkap tadi, seperti disebutkan oleh Ismunandar
(1988: 69), diciptakan oleh Sunan Kudus. Wayang tersebut dipentaskan dengan
cerita Wong Agung Menak. Wayang jenis ini kini dikenal dengan sebutan wayang
menak atau wayang golek menak. Pertunjukan pertama jenis wayang ini tercatat
pada awal abad ke-16.
·
Wayang
Golek Purwa
Wayang
Golek Purwa adalah sebutan pertunjukan wayang kulit yang berlatar belakang
cerita Ramayana dan Mahab Bharata. Pertunjukan wayang golek ini masih hidup
sampai sekarang Dan tetap mendapat dukungan dari komunitas pecinta. Faktanya,
karena ketekunan dan Pertunjukan wayang golek ini bisa dikatakan cinta bagi
para perencana. Seperti Wayang Kulit Purwa, wayang golek Purwa juga dipentaskan
dalam cerita Ba Pong Ramayana dan Mahab Bharata. Penggunaan cerita standar
Campuran Jawa dan Dan. Bahasa Jawa digunakan untuk menyampaikan bahasa Bubuka,
Bagian pengantar, dan babak pengantar untuk setiap babak. Sisa boneka Gunakan
bahasa Sunda. Selain cerita standar, wayang golek juga mengarang cerita Inilah
yang disebut dengan cerita carangan. Kisah pertunjukan wayang golek tidak lepas
dari cerita utamanya Cerita utamanya adalah cerita Ramayana atau Mahabharata.
Wayang kulit purwa bisa Pertunjukan di malam hari dan siang hari. Selamat
menikmati pertunjukan Karena wayang yang sifatnya tiga dimensi, maka wayang
bisa lebih natural. Tindakan tokoh wayang bisa Nikmati sepenuhnya di atas
panggung.
·
Wanda
Wanda
adalah istilah perwajahan atau raut khusus pada wayang. Tokoh-tokoh dalam
cerita wayang yang memiliki wanda adalah tokoh yang populer atau disukai
penonton, dan mempunyai banyak kisah sehingga sering ditampilkan. Sedangkan
tokoh yang jarang ditampilkan, sehingga kurang dikenal, tidak memiliki raut
khusus (Sagio dan Samsugi, 1991: 18; Widodo, 1990: 123).
Ada
tiga istilah raut yang memiliki pengertian berbeda: raut peranan, raut tampang,
dan raut wanda atau raut khusus (Jajang, 1995: 10-27). Kata raut digunakan untuk
menunjuk segi rupa golek. Sebuah boneka golek secara umum memiliki dua sisi
sebutan pada rautnya, yaitu raut peranan dan raut tampang. Raut peranan
menggambarkan peranan tokoh golek: peranan sebagai satria, ponggawa, buta, dan
panakawan. Misal, tokoh Arjuna peranannya sebagai satria; Gatot Kaca sebagai
ponggawa; Arimba sebagai buta; dan Cepot sebagai panakawan. Di samping itu,
raut peranan pun kadang-kadang menunjukkan peranan ganda, seperti tokoh
Yudhistira berperan sebagai satria-raja; Duryudana sebagai ponggawa-raja;
Arimbi sebagai buta-putri (raseksi); dan (dalam cerita carangan) Gareng sebagai
panakawan-raja. Masih banyak lagi contoh peranan ganda tersebut, di antaranya
satriadewa, satria-pandita, satria-ponggawa, ponggawa-dewa, ponggawa-pandita, ponggawabuta,
dan buta-panakwan.
·
Nilai
Estetis Lihatan
Nilai
estetika wayang tidak bisa dicapai hanya dengan menggunakan standar estetika.
Estetika Barat cenderung hanya membahas elemen-elemen yang terlihat dari karya
seni mata. Unsur estetika berupa garis, bidang, warna, spasi, batik, blabar dan
sisik Misalnya, Anda dapat menganalisis benda-benda dalam boneka Golk
berdasarkan konsep estetika Barat. Namun pada kenyataannya semua jenis kesenian
ketimuran, khususnya kesenian ketimuran tradisional sangat erat kaitannya Ini juga
terkait dengan kecantikan yang tak terlihat. Misalnya nilai seni Ini simbolis.
Faktanya, keindahan yang tak terlihat ini benar-benar diabaikan Dalam seni
Barat. Secara teoritis, dari segi tampilan, kemunculan wayang biasanya
"tidak proporsional". Seni Barat. Bandingkan keseimbangan bagian
tubuh, seperti ukuran kepala, Panjang lengan dan tinggi serta ukuran tubuh
menunjukkan konsep proporsi yang lain.
·
Raut
Peranan Satria
Raut
peranan satria terdiri atas satria, satria-dewa, satria-raja, satria-pandita,
dan satriaponggawa. Ada juga raut peranan seperti satria-dewa-ponggawa. Seperti
telah diuraikan pada bagan pakem raut golek, raut peranan tokoh golek satria
terdiri atas tiga kelompok: satria lungguh, satria ladak tumungkul, dan satria
ladak dangah. Ketiga kelompok raut peranan ini masing-masing memiliki ciri yang
hampir sama, ciri tokoh satria. Ciri tersebut adalah mata sipit, gabahan,
kedelen, atau biasa juga disebut mata jaitan; alis tulis, mecut, ngajeler paeh:
alis yang diterapkan juga pada raut peranan tokoh putri (kini menjadi trend
tiruan model alis para wanita Indonesia terkenal, seperti para artis). Oleh
karena itu, tokoh putri dikelompokkan juga sebagai golongan satria. Di samping
ciri mata dan alis, pola mulut (alit galing, mungil), kumis (tulis, tipis), dan
hidung (mancrit, mancrit bangir) pun sangat khas. Warna wajah lebih cenderung
berdasarkan ciri raut tampang, yaitu sesuai dengan watak masing-masing tokoh.
Warna putih, gambaran keluguan, kesantunan, banyak diterapkan kepada raut
peranan satria lungguh. Warna gading dan merah muda, banyak juga ditemukan pada
wajah tokoh satria ladak tumungkul dan ladak dangah. Memang, warna wajah pada
dasarnya lebih mengarah kepada ciri raut yang menunjukkan watak tokoh, bukan
ciri golongan.
·
Raut
Peranan Ponggawa
Ponggawa
adalah angkatan bersenjata, penjaga keamanan. Raut peranan ponggawa, sejalan
dengan tugasnya sebagai “pengawas”, memiliki ciri khusus ponggawa. Pola mata,
alis, hidung, kumis, rerengon (garis dahi), dan hiasan kepala bagian depan,
merupakan penanda raut peranan tersebut yang paling tampak. Sikap kepala dan
warna wajah, seperti pada raut peranan satria, menunjukkan watak tokoh
ponggawa. Pada kelompok wayang golek yang berraut peranan ponggawa, seperti
satria, terdiri atas beberapa gabungan raut. Di antaranya, ponggawa,
ponggawa-dewa, ponggawa-raja, ponggawa-pandita, dan ponggawa-buta. Ada juga
yang memiliki tiga ciri gabungan, misalnya ponggawa-buta-raja, seperti tokoh
Boma. Agak menarik bila kita memperhatikan raut tampang tokoh tertentu, seperti
Bima dan Duryudana. Bima, diceritakan, adalah tokoh ponggawa-satria yang jujur,
teguh pendirian, dan selalu menepati janji. Tetapi, Bima digambarkan tidak
pernah menerapkan tata-titi dalam menghadapi siapa saja; mengahadapi dewa
sekali pun. Ketidaksantunan tokoh Bima tersebut tidak sejalan dengan (gambaran)
sikap kepalanya yang menunduk. Begitu pun tokoh Duryudana. Raja Astinapura ini
terkenal berangasan, mudah dipengaruhi, dan licik, tetapi dalam kondisi
tertentu, Duryudana menampakkan sikap baik yaitu menghargai sesama. Watak
pemarah hanya tampak pada warna merah wajahnya. Sikap kepala tokoh ini tetap
menunduk, seperti tokoh-tokoh santun pada umumnya. Tampaknya, penggambaran
watak pada raut tampang tokoh-tokoh cerita Mahabharata memang lengkap, tidak
sekadar hitam-putih: tokoh santun belum tentu sepenuhnya berwatak baik; tokoh
berangasan pada batas-batas tertentu tetap memiliki sisi baik.
·
Raut
Peranan Buta
Buta
atau raksasa, dalam cerita wayang, terdiri atas buta biasa dan buta garang.
Buta biasa adalah jenis buta yang ukuran tubuhnya hampir sama dengan tokoh ponggawa
badag, misalnya Bima dan Duryudana. Ciri keraksasaannya bisa dilihat pada pola
gigi yang menonjol, bertaring. Banyak tokoh ponggawa yang bisa dikategorikan ke
dalam kelompok ini. Tetapi, karena ciri keponggawaannya lebih menonjol, tokoh
seperti itu lebih tepat bila disebut ponggawa-buta. Dalam artian, ciri buta
tampak pada bagian giginya saja. Yang termasuk golongan buta biasa misalnya
tokoh Cakil. Raut buta garang, seperti tokoh Arimba, kegarangannya tampil dalam
pola garis wajah yang kasar. Hidung medang yang menjadi ciri kebanyakan tokoh
buta bisa menampakkan kekasaran perangai tokoh. Mata yang melotot, alis besar
yang dilengkapi rerengon, kumis turih, pola mulut yang ditarik ke dalam
menghabiskan setengah bagian wajah tampak pinggir, dan gigi besar lengkap
dengan taring, mampu menampakkan gambaran raksasa yang menyeramkan. Pada
perkembangan masa kini, ketika pertunjukkan golek lebih banyak menampilkan
unsur lelucon, buta tidak lagi menyiratkan tokoh seram. Buta ciptaan baru,
kini, telah menjadi bahan mainan, olok-olok, bahkan menjadi bulan-bulanan
lawan. Biasanya tokoh-tokoh buta ciptaan baru itu dipertemukan dengan para
panakawan. Seloroh dan kritikan muncul dari dialog para buta dan panakawan ini.
Inilah bagian cerita yang menjadi daya tarik khusus pertunjukan wayang golek
masa kini.
·
Raut
Tampang Panakawan Pandawa
Seperti disebutkan di
atas, sebuah pertunjukan wayang golek selalu dibumbui tampilan para pelucu,
yaitu panakawan. Melalui panakawan, dalang bisa mengolah cerita yang lucu
bahkan yang menyentil penonton. Panakawan Pandawa memiliki raut yang khusus.
Raut mereka --terdiri atas Semar, Cepot, Dawala, dan Gareng-- tidak bisa
disatukelompokkan karena masing-masing tidak memiliki ciri raut kelompok
seperti satria, ponggawa, atau pun buta.
·
Antara
Cibiru, Cibiru lama, dan Cibiru Baru
Wayang golek yang digubah
oleh Ki Darman masih sangat sederhana bentuk dan hiasannya. Meskipun bukan
golek gubahan awal, beberapa golek kuno masih bisa diteliti untuk bahan
perbandingan dengan golek yang digubah setelahnya. Ketika tulisan ini disusun,
M. Duyeh, seorang juru golek asli Cibiru, masih menyimpan seperangkat golek
yang diperkirakan telah berusia 150-an tahun. Golek-golek ini merupakan milik
dalang kondang dari Bogor, yang sering tampil di Istana Bogor ketika masa
pemerintahan Presiden Soekarno. Selanjutnya, oleh keuturunan dalang tersebut
dihibahkan kepada M. Duyeh. Seperti yang dipaparkan di depan, diakui oleh para
juru golek bahwa pakaian golek tidak termasuk ke dalam keharusan pakem.
Artinya, para juru golek bisa secara bebas memberi pakaian kepada boneka golek
buatannya. Tampaknya, pakaian lebih banyak disesuaikan dengan kondisi zaman.
Perubahan itu tampak pada penggunaan bahan hiasan pakaian. Golek masa kini
cenderung berpakaian warna cerah --sejalan dengan ketersediaan bahan dan
kemampuan keuangan para juru golek. Penggunaan payet, mute, dan benang wol
sangat dominan. Bahan beludru dan batik banyak dipilih untuk pakaian dan
sarung. Hal ini seimbang dengan warna-warna hiasan kepala golek yang
menggunakan bahan cat duko.
· Nilai Estetis Non-Lihatan
Keindahan
ekspresi yang tidak terlihat (abstrak, tidak terlihat, non-visual) hanya bisa
ada Perasaan seorang penikmat dengan latar belakang pengetahuan tentang cerita
dan asal muasal budaya wayang. Penikmat yang menghargai kenikmatan visual hanya
bisa Menangkap elemen yang terlihat seperti garis, bidang, garis, warna, isian,
dan kosong.
Keindahan
yang tak terlihat ini, misalnya, dapat dirasakan secara khusus dalam kaitannya
dengan konsistensi karakter. Gambar simbolis yang muncul dalam postur kepala,
warna wajah, alis tebal, Bentuk hidung, tinggi, bentuk mata, ukuran mulut,
jenggot, gigi dan garis Ditingkatkan (misalnya rerengon). Misalnya,
menggambarkan karakter pemarah dengan mata Kedondong (kedondong), Rerengon
turih (Rerengon turih), hidung besar, jenggot lebat, tersipu Cabai, angkat
kepala dengan posisi kepala menghadap ke atas. Faktanya, taring sering
ditambahkan. Akan merasa Berbeda dengan karakter sopan, seperti kesatria biasa,
matanya, hidungnya Kecil, wajah putih, alis, rumput, mulut biasa dan postur
kepala tertunduk. Gambaran Budaya keraton Jawa terutama dalam hal menunjukkan
rasa hormat, ketertiban dan kesopanan Seseorang, dengan kepala tertunduk,
matanya setengah tertutup. Apa yang harus didengar Tidak peduli apa yang orang
bicarakan, tidak perlu melihat atau menghadapi.


Komentar
Posting Komentar