BAB IV Pendekatan Bahasan Seni Rupa

 

BAB IV

PENDEKATAN BAHASAN SENI RUPA

 

1.      Tiga Jenis Pendekatan dalam Pembahasan Seni Rupa

Kini, pembahasan teori dengan pendekatan lintas wilayah keilmuan telah menjadi bagian penting dalam pembicaraan bidang-bidang keilmuan. Membicarakan seni rupa sebagai kajian keilmuan, tidak lagi terbebas dari masuknya tinjauan dengan pendekatan bidang ilmu lain. Bidang kajian antropologi, sosiologi, dan psikologi, sudah lama menjadi bidang kajian yang melengkapi pendekatan bahasan seni rupa.

 

2.      Pendekatan antropologi dalam membahas seni rupa

Pandangan para antropolog tentang keberadaan seni rupa, tampaknya, harus menjadi bahan kajian bagi para pemerhati seni rupa. Para antropolog tidak pernah memilah bahasan seni rupa berdasarkan kelompok utama-remeh atau murni-terap. Karena kegiatan seni adalah bagian dari kegiatan manusia, “seni tidak bisa dipisahkan dari kehidupan” (Herkovits, 1955: 234). Bahasan para antropolog tentang arts, seni, seni rupa ini, terutama memperhatikan bentuk, tenkik pembuatan, motif hias, dan gaya (Koentjaraningrat, 1990: 380).

 

Sejumlah jenis seni rupa hasil percobaan dan pencarian para perupa yang ditampilkan di dalam buku ini, mempertegas anutan paham bahwa “seniman selalu bekerja menggunakan alat yang sesuai dengan zamannya” (Kranz, 1974: 33). Di antaranya: seni lukis, seni patung (environmental sculpture dan kinetic sculpture), seni cahaya (kinetic light, video-lumined light wall, dan kinetic images), seni fotografi (satellite photography, scanning electron microscope photography, x-ray photography, dan shadow photography), seni bangun, seni lingkungan, seni komputer (computer design, computer art, dan computer film), kineorama, gambar suara (sound pictures), seni reklame (misal, skywriting), dan banyak lagi. Islamic Art, sebagai bahan bandingan, buku yang disusun oleh David Talbot Rice (1975), terdiri atas 12 bab, 288 halaman, membahas karya seni rupa masyarakat muslim berdasarkan tempat berkembangnya kegiatan seni rupa tersebut. Dari sejumlah karya seni rupa yang ditampilkan, sebagaian dilengkapi dengan gambar penjelas. Di antaranya: bejana, keramik, mozaik, mesjid, beranda, gambar rancangan, kisi-kisi jendela, istana, pintu gerbang, lukisan dinding, hiasan dinding, menara, panel, kendi, mangkuk, piring, ubin, mimbar, penutup dinding, prasasti, lukisan langit-langit, mihrab, naskah, ilustrasi naskah, halaman buku, lukisan mini, pot bunga, arca, lampu mesjid, dan kubah.

 

3.      Pendekatan Sosiologi dalam membahas seni rupa

P.J. Bouman (1954), dalam bukunya Sosiologi Pengertian dan Masalah, pada salah satu bagian bukunya menulis tentang sosiologi seni, di samping tentang sosiologi agama, sosiologi kebudayaan, dan sebagainya. Bouman menunjuk bahwa perhatian para sosiologist dalam membahas seni adalah mengenai: 1) sampai seberapa jauh ciptaan seniman menunjukkan pengaruh sosial, 2) gema sosial ciptaan seni, 3) kedudukan seniman dalam masyarakat, dan 4) bagaimana masyarakat menghargai, menyebarkan, atau menghimpun hasil-hasil seni

 

Bahasan para ahli tentang sosiologi seni, seperti yang ditunjukan dalam pola bahasan Bouman, condong kepada kelompok masyarakat seni pekota. Kedudukan seniman pedesa, seniman tradisi, masyarakat kebanyakan, kurang mendapat perhatian. Hal itu merupakan bentuk kesenjangan teori, seperti juga yang terjadi dalam dunia teori seni rupa Barat. Masyarakat yang kini disebut sebagai masyarakat tradisi, pada zamannya adalah kelompok masyarakat pekota. Tetapi karena perubahan zaman, terjadi pergeseran dalam penyebutan posisi mereka. Sebagaimana ketika masyarakat masa kini sadar bahwa teknologi adalah milik mereka, hasil capaian mereka dalam mengolah alam lingkungannya, hal itu menjadi hal yang sama pada kelompok masyarakat lainnya dalam kurun waktu yang berbeda. Tradisi tidaklah mengacu waktu melainkan menyangkut kondisi. Sebagaimana sebutan primitif yang selalu dihindari teoretisi seni Eropa untuk menyebut kondisi masyarakat mereka, kondisi itu bisa kita temukan pada masyarakat masa kini yang telah dianggap postmodern.

 

Dalam kurikulum pendidikan seni rupa di tingkat perguruan tinggi, misalnya, terlalu sedikit, atau bahkan bisa disebut tidak ada arahan materi untuk keperluan menggugah para mahasiswa mengembangkan aneka jenis mainan anak. Kegiatan melukis, mematung, dan menggambar, seolah-olah telah menjadi pokok ajaran dalam seni rupa. Kalau kita menunggu atau sekadar berharap ada perubahan isi kurikulum yang bersumber dari kebijakan pusat, tampaknya kita seperti menggantang asap. Pemerintah masih mengganggap bidang seni rupa hanya sebagai bidang kegiatan pengisi waktu luang yang nilai ilmiahnya sangat jauh bila dibandingkan dengan sains. Begitu pun hasil devisa yang didapat dari penjualan benda-benda seni rupa, masih ditafsir sebagai hasil pengembangan bidang pariwisata. Artinya, devisa negara dari penjualan barang seni rupa secara bengis diaku sebagai devisa dari bidang pariwisata.

 

4.      Pendekatan Psikologi dalam membahas seni rupa

Pendekatan psikologi terhadap seni lebih cenderung berupa kajian estetis yang dikaitkan dengan perilaku dan pengalaman manusia dalam pengolahan, penikmatan, ataupun pe-ngaruh seni. Para ahli psikologi mengenal dua bentuk pendekatan psikologis: Pendekatan Gestaltism (The Psychology of Vision, Psikologi Cerapan) dan pendekatan Psikologi Analitik. Dalam buku ini lebih khusus akan dibahas dibahas pendekatan yang kedua, pendekatan psikologi analitik dari Carl Gustav Jung. Dalam pembicaraan psikologi analitik, khususnya ketika membahas seni modern, kita akan menemukan sebutan extraverted (model perilaku yang bersifat subjektif). Extraverted, sikap ekstravet, adalah bentuk lain untuk menyebut tampilan seni yang (dianggap) bersfat universal. Introverted (kebalikan dari kondisi ekstravet), sikap intovet, digunakan untuk menyebut tampilan karya seni yang bersifat individual.

 

Merujuk ciri-ciri tipe psikologis yang dikemukakan oleh Jung, bertalian dengan pelaku seni modern, secara garis besar terdiri atas empat kelompok seperti berikut.

a.       Realisme, Naturalisme, dan Impressionisme

Kelompok seniman yang menganut tiga aliran seni ini mengutamakan unsur pikir dalam kegiat-annya. Tampilan kelompok ini menunjukkan sikap peniruan terhadap dunia-luar alam. Tampil-an utama karya yang dilatari ketiga aliran ini adalah sesuatu yang nyata. Kenyataan inilah yang menuntut unsur pikir karena peniruan bentuk real, natural, maupun impression adalah peniruan terhadap bentuk-bentuk yang ada di alam. Walaupun kemudian ada penambahan tertentu, ikatan bentuk-bentuk yang nyata sebagai unsur utama dalam model atau objek benda yang ditiru tetap ketat. Sesuatu yang nyata tampak jelas dalam bentuk-luar objek.

b.      Superrealisme dan Futurisme

Peranan sensasi sangat kuat dalam konsep kegiatan kelompok ini. Mereka menunjukkan perhatian terhadap nilai-nilai spiritual dalam memanggapi dunia-luar alam. Dunia-luar, bagi ke-lompok ini, masih menjadi perhatian yang utama. Mereka menggunakan sensasi bentuk nyata dengan menambahkan unsur-unsur tampilan yang luar biasa, berlebihan, bahkan menampakkan kondisi yang ada di luar dunia nyata.

c.       Fauvisme dan Expressionisme

Peranan sesnsasi sangat kuat dalam konsep kegiatan kelompok ini. Karya mereka menampilkan kerinduan terhadap sensasi rasa perseorangan senimannya. Senimanseniman ini mengutamakan subjektivitas dirinya dalam mengolah karya.

d.      Cubisme, Constructivisme, dan Functionalisme

Bagi kelompok ini, intuisi menjadi titik pusat konsep berpikir mereka. Mereka menunjukkan keasyikan dengan bentuk-bentuk mujarad (abstrak) Kelompok pertama memiliki latar sikap objektif senimannya. Bentuk-bentuk alam menjadi dasar tiruan: fotografis maupun impressionistis. Keberadaan objek mengontrol kegiatan jasmani. Seluruh perhatian seniman ditujukan hanya untuk meneliti kepastian objek. Faktor bawah sadar dan kejiwaan seniman mungkin bisa tersalurkan melalui pengaturan komposisi dan warna.

 

5.      Rangkuman Bahasan Modernisme

Merunut faktor-faktor penyebab munculnya prinsip desain modernisme sebenarnya sangatlah kompleks, seperti halnya dengan menentukan kapan awal pemunculannya. Secara garis besar beberapa faktor pendukung bisa disebutkan berikut ini: Pertama, industrialisasi bersamaan dengan berkembangnya kapitalisme telah mendorong lahirnya ‘kelas menengah’ baru yang cukup makmur. Kebutuhan dan kemampuan dalam pemilikan barang-barang menjadi semakin luas ke berbagai lapisan masyarakat. Dengan alasan untuk memenuhi tuntutan ‘demokratisasi’ ini maka diperlukan desain-desain yang sederhana dan terstandarisasi sehingga bisa diproduksi secara massal dengan harga yang terjangkau, serta tidak mewakili selera kelas tertentu (impersonal). Kedua, kemajuan teknologi telah memunculkan sejumlah fungsi baru dalam kebutuhan hidup masyarakat modern, sedang fungsi-fungsi lama mengalami transformasi. Tipe-tipe bangunan yang sebelumnya tidak dikembangkan seperti pabrik, gedung perkantoran dan pertokoan, rumah sakit, sekolah dan hotel besar merupakan tantangan baru dalam bidang arsitektur. Sedang revolusi gaya hidup yang ditandai dengan berperannya rumah-rumah ‘sub-urban’, rumah tanpa pembantu, penggunaan peralatan listrik seperti radio, televisi, alat pembersih debu, lemari es, dan sebagainya, telah menimbulkan problem-problem baru dalam perancangan dan penataannya. Ketiga, ditemukannya metode pengolahan dan teknik penggunaan bahan-bhan mterial baru. Dengan menggunakan material baja, beton bertulang dan kaca lebar, desain arsitektur dimungkinkan untuk mengeksploitasi bentuk-bentuk baru yang tadinya tidak dikenal, seperti bangun-an berkantilever atau gedung-gedung pencakar langit dengan kerangka baja dan selaput dinding kaca (curtain wall). Desain industri juga makin berkembang melalui sejumlah eksperimentasi dan eksplorasi bahan, seperti berbagai jenis plastik, serat gelas (fibre glass), logam ringan se-jenis aluminium atau campuran (alloy), baja tak berkarat (stainless steel), pelengkungan kayu lapis (laminated bentwood) dan sebagainya. Dari faktor-faktor di atas, dapat terlihat bahwa perkembangan moderninsme sangat erat berkaitan dengan kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi modern, sehingga sebenarnya tidaklah mengherankan ketika sikap rasional-teknis yang merupakan ciri khas ilmu pengetahuan dan teknologi, juga banyak diserap dan kemudian tercerminkan dalam pendekatan dan hasil desain modernisme.

 

·         Pokok-pokok Gagasan dalam Modernisme

Pokok gagasan Modernisme lazim disebut juga ‘rasionalisme’, dan dalam penerapannya dapat dijabarkan lagi dalam beberapa ‘turunan’nya. Berikut ini, untuk lebih memudahkan dalam memahami Modernisme, akan diuraikan beberapa pokok gagasan yang dianut di dalamnya. Pokok-pokok gagasan ini sebenarnya tidaklah dapat dipandang sebagai bagian yang berdiri sendiri-sendiri secara terpisah, namun merupakan suatu kesatuan yang saling berkaitan dan saling pengaruh antara satu dengan yang lainnya.

a.       Fungsionalisme

 Salah satu aspek rasional desain adalah apabila ia mampu memenuhi sasaran praktisnya, yaitu fungsional. Meskipun nilai fungsi selalu melekat dalam konsep desain dari sejak awal, namun dalam pendekatan Modernisme, aspek ini menjadi gagasan yang diutamakan. Selain fungsi menjadi faktor determinan yang menentukan bentuk, fungsi sebuah desain atau elemen desain juga secara jujur direfleksikan bahkan diekspresikan oleh bentuk tanpa ditutup-tutupi atau dibuat-buat. Fungsionalisme dengan demikian dinilai sebagai pemenuhan kualitas sebuah desain. Selebih dari itu, akan dinilai sebagai ‘pemborosan’ pada hal-hal yang tidak fungsional.

b.      Estetika Mesin

Modernisme muncul dalam semangat industri dan mekanisasi. Mesin menjadi kunci utama. Kekaguman terhadap mesin sebagai fenomena perubahan peradaban manusia masa itu, menjadikan mesin sebagai sumber inspirasi dan panutan dalam berbagai gerakan/aliran seni dan desain yang muncul secara menjamur pada dua dekade awal abad 20. Estetika mesin merupakan hasil penggabungan antara konsep seni dengan industri, yaitu kaidah-kaidah yang muncul dalam tuntutan rasionalitas industri. Nilai estetikanya mengacu baik pada bentuk mesin itu sendiri yang lugas, fungsional, tanpa ornamen atau dekorasi; sifat dan cara kerja mesin yang rasional dan efisien; serta pada benda-benda yang dihasilkan oleh sistem kerja mesin, yaitu sederhan, presisi dan terstandarisasi. Maka bentuk-bentuk desain yang dihasilkan adalah bentuk yang sederhana (simple), bersih (clean), dan jelas (clear).

c.       Kebenaran dan Kejujuran

Kemunculan Modernisme sering diasumsikan merupakan akibat logis yang tak terhindarkan dari proses mesin. Salah satu konsekuensi cara berpikir rasional yang merupakan dasar pendekatan desain Modernisma adalah kebenaran dan kejujuran. Maka kaum Modernis juga menganut pandangan bahwa rancangan yang baik adalah yang mempu menampilkan nilai-nilai kebenaran (truth) serta kejujuran (honesty) baik terhadap fungsi, material, maupun struktur/konstruksi. Hal ini sejalan dengan metode kerja ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam ilmu pengetahuan, kebenaran dan proses dinilai melalui ‘keabsahan’ atau validitasnya yang mampu dibuktikan secara nyata/empiris.

 

d.      Gaya Universal

Gelombang kebaruan pada pergantian abad yang dibawa oleh penemuan mesin, seolah[1]olah menuntut suatu kebaruan gaya atau corak desain yang sama sekali baru dan tidak mengacu pada gaya-gaya yang sudah ada sebelumnya. Pemunculan Modernisme, yang didasarkan pda pendekatan-pendekatan yang rasional, fungsional dan terukur, serta di dalamnya terkandung nilai-nilai kebenaran dan kejujuran, dianggap memenuhi pencarian gaya yang sesuai dan mampu mewakili semangat jaman modern ini (Zeitgeist = spirit of the age). Karenanya, dengan dasar asumsi bahwa semua kebutuhan manusia bisa dirasionalisasikan, desain modern harus mampu merupakan jawaban paling benar bagi semua persoalan desain yang muncul di semua tempat yang berlaku untuk semua orang di segala waktu (universal).

 

e.       Dinamika Perkembangan Modernisme

Memahami Modernisme memang bukan merupakan hal yang mudah, terlebih jika berasumsi bahwa Modernisme merupakan sebuah garya atau aliran yang tunggal, dan bisa dengan sederhana dan tegas ditunjukkan definisi serta batasan-batasannya. Dalam perkembangan sejarahnya ternyata Modernisme tidak selalu berjalan dalam garis sejarah yang lurus atau dengan pemahaman yang selalu seragam. Sejarawan arsitektur C. Norberg Shulz, dalam bukunya Meaning in Western Architecture, bahkan tidak menggunakan istilah “modern” dalam pembabakannya, melainkan menganggap bahwa paham yang dominan pada paruh pertama abad ini adalah “Fungsionalisme”.


Contoh Gambar mengenai Bahasan Seni Rupa

    
Lukisan dinding Gua Lascaux yang mengambarkan bison sebagai bentuk perlambangan --menurut para ahli-- untuk memudahkan kegiatan berburu binatang tersebut. Gambar dinding gua sejenis, banyak ditemukan di hampir semua belahan dunia, termasuk di Indonesia. Misalnya di Pasemah, Leang-leang, Raja Ampat, dan banyak tempat lainnya. Pada catatan lain didapatkan gambar binatang dan cap tangan. Khusus gambar binatang, banyak yang dilengkapi dengan gambar tombak maupun sejenis panah yang digambarkan menembus bagian tubuh binatang. Menurut hasil penelitian para ahli purbakala, gambar anak panah dan tombak itu dibuat secara berkala, sehingga gambar anak panah dan tombak bertambah sesuai dengan tambah jumlah upacara sebelum berburu binatang. 

Gambar karya Fikri Fuadi Suryana (5 tahun), Perang Robot. Kecamuk perang antarmahluk ‘asing’ bagi orang tua, yang inspirasinya diambil dari film animasi manga Jepang


Motif kain Bali sebagai motif hasil pergulatan antara rasa, pikiran, dan kesadaran masyarakat Bali







Monalisa karya Leonardo da Vinci










Komentar

Postingan populer dari blog ini

Persamaan dan Perbedaan Ilustrasi, Poster, dan Infografis

Wawancara Seniman Ukir