Mentari Warna - Warni
Kata PengantarNaskah ini merupakan suatu karya yang ditulis oleh Dara Ginanti dengan Judul Mentari Warna – Warni. Naskah ini berceritakan tentang Mentari yang tidak selalu bersinar setiap waktu, ada kalanya mentari terbenam dan berganti terbit dengan rembulan. Begitu juga dengan Mentari yang satu ini, keceriaan dan senyum tulusnya yang terpancarkan untuk orang sekitar terbenam pada satu waktu. Lantas, bagaimana dengan peribahasa buah jatuh tak jauh dari pohonnya? Akankah mentari ini jatuh tak jauh dari sang pohon? Akan jadi apakah Mentari di masa nanti masih menjadi sebuah rahasia awan yang kelabu. Beragam konflik sosial mulai dari korupsi, prostitusi, diskriminasi, pembunuhan, dan pembullyan telah dihadirkan kepada sosok seorang gadis SMA kecil yang teguh itu, bayang - bayang Mentari masih terngiang memancarkan semburat warna - warni yang indah. Mentari warna - warni.
MENTARI
WARNA – WARNI
Oleh :
Dara
Ginanti
Tokoh dan
Penokohan
Mentari
Seorang
siswi SMA dengan perawakan cantik dan lembut berusia 17 tahun, murah senyum,
ceria, penampilan selalu rapi, dan selalu membawa tempat makan serta botol
minum merah mudanya saat ke sekolah
Reyhan
Siswa SMA
usia 17 tahun teman Mentari sejak kecil dengan tinggi standar yang selalu
berpenampilan sopan, sifatnya sabar, tulus, ramah, dan dewasa. Reyhan
bersekolah di sekolah yang sama dengan Mentari tapi berbeda kelas
Jovian
Seorang siswa
anak dari pemilik perusahaan sukses dan kaya berperawakan tinggi dengan senyum
menawan yang selalu berpenampilan rapi dan keren, sifatnya dingin, cuek, dan
acuh;
Agus Sulistyo (Ayah Mentari)
Laki --
laki berusia 40 tahun dengan tinggi standar, badan sedikit berisi, dan agak
berantakan. Karakternya ambisius, teliti, cermat, penyayang, tetapi kurang
bertanggung jawab
Lulay Ardianti (Ibu Mentari)Pelacur berusia 36 tahun berperawakan cantik, ramping, dan menggoda. Sifatnya centil, materialistis, genit, dan manja. Selalu mengenakan pakaian ketat, rok pendek, dan menggerai rambut;
Alan Siregar
Pemilik
perusahaan besar dan juga ayah dari Jovian yang berwibawa, sombong, ambisius,
licik, cerdik, curang, angkuh, dan selalu berpakaian rapi dengan jas hitam
serta sepatu mengkilapnya;
Kakek Mentari
Laki --
laki paruh baya berumur 60 tahun yang renta dengan keterbatasan mental
berperawakan kurus dan kering. Sifatnya bijak, gila, penasihat dan pendengar
yang baik, serta tidak gegabah.;
Siswa -- siswa SMA (Teman sekelas Mentari)
Keempat
teman Mentari ini bersifat manja, centil, sombong, pengkhianat, lebay,
suka mencari perhatian, dan suka menggosip. Siswi -- siswi berbadan ramping dan
cantik ini mengenakan seragam SMA negeri dengan sepatu mahal berwarna mencolok.
Hakim Pengadilan
Kedua
hakim ini berperawakan tinggi dengan badan berisi, mengenakan pakaian hakim dan
salah satunya memakai kacamata. Karakter dari kedua hakim ini adalah pandai,
bijak, tetapi curang dan licik;
Polisi
Tokoh
tanpa dialog dan hanya berkostum polisi dengan kacamata hitam, badannya tegap,
tinggi, dan kuat. Para polisi hanya beradegan menarik Agus Sulistyo saat di
pengadilan untuk dipenjara;
Narator
Seorang
wanita jawa usia 25 tahun dengan rok jarik berperawakan manis,
kurus, dan sopan yang selalu membawa sebuah album foto tua berdebu. Sifatnya
sopan, pendiam, pemurung, dan suka menyesali masa lalu;
Simbok Uti
Seorang
wanita paruh baya usia 56 tahun yang merupakan pembantu rumah tangga keluarga
Mentari dan pengasuh Mentari sejak kecil, berperawakan renta dan kurus namun
dalam drama tidak tampil di panggung, melainkan melalui rekaman suara;
Bayangan Mentari
Berpakaian
seragam SMA sama seperti Mentari dan membawa ransel, tempat makan, serta tempat
minum yang sama seperti yang dibawa Mentari. Tampilannya sama seperti Mentari
namun wajahnya pucat, tokoh ini tidak berdialog
Drama
Dengan Sejuta Akhir
Prolog
Cahaya
hangat mentari menyelinap melewati celah -- celah jendela sebuah rumah kecil
nan berdebu. Perabot -- perabot tua dan arsitekturnya menunjukkan umur bangunan
ini yang sudah tak muda lagi. Seorang wanita duduk di sebuah kursi kayu
berukirkan bunga pada ruang tengah nan klasik. Tangannya membuka halaman demi
halaman sebuah album tua berwarna jingga yang sebagian halamannya sudah kotor
termakan usia. Suara musik klasik jawa mengalun lirih ke penjuru ruangan. Lalu,
sejenak hening. Wanita itu tersenyum kecil. Memulai monolog.
Wanita
: (Menengok ke samping,
seolah -- olah sedang menatap jendela) Mentari. (Menghela
napas lalu sejenak berhenti) Tiap kali sang surya muncul dari timur
sisi jendelaku, (mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah jendela) anganku
teringat pada sebuah kisah lama. (Menengok ke arah penonton) Kisah
yang memicu keprihatinanku, kisah yang membuatku merasa bersalah, dan membuatku
sangat menyesal. Suatu kisah yang aku sendiri tidak mengerti kenapa Tuhan
sampai menghadirkannya di dunia nyata.
(Wanita
itu menutup album jingganya kemudian berdiri dari kursi)Aku? Aku tidaklah lebih dari sebuah
ujung kuku pada bagian kisah itu, aku hanyalah debu kecil yang terbang di
alurnya tanpa berani melakukan apapun. Bodoh. Ya, aku memang bodoh. (Berhenti
sejenak)Biar aku ceritakan padamu. Kesalahan yang telah kuperbuat bertahun
-- tahun yang lalu, kesalahan besar dimana aku telah tidak peduli pada sosok
seorang Mentari.
Suasana
hening, lampunya meredup. Suara musik jawa kembali mengalun. Narator mematung.
Tirai tidak tertutup, adegan berlanjut ke babak 1.
Babak 1
Panggung
diatur layaknyaruang kelas pada bagian sebelah kiri, 4 kursi dan 4 meja disusun
miring dan agak menyerong untuk menghindari pemblokingan. Terlihat 4 siswa
perempuan sedang bergerombol di deretan kedua, dua diantaranya duduk di kursi.
Satu siswa laki - laki lainnya duduk di salah satu kursi di deretan terdepan
membaca sebuah buku. Lampu tidak menyorot area kelas.
Suara
wanita bersenandung terdengar dari arah panggung sebelah kanan, seorang gadis
dengan seragam putih abu -- abu lengkap dengan tas ransel berwarna merah muda
berjalan dengan senyum dan semangat yang tulus melewati narator yang telah
mematung berdiri di tempatnya. Tangannya memegang sebuah kotak makan dan tempat
minum yang warnanya senada dengan ransel. Tiba -- tiba suara lantang dari luar
panggung memanggil.
Reyhan
: Mentari!
Gadis
itu lantas menengok, Mentari menghentikan langkahnya. Seorang laki -- laki
datang menghampiri mentari dengan terengah -- engah. Lampu fokus menyorot
kepada keduanya.
Mentari
: Ayo, Rey!
Reyhan
: Ayok! (Reyhan mengangguk)Ehh...
Tunggu dulu. (Reyhan menutup matanya lalu mengikuti asal bau sedap yang
melewati hidungnya)Hhmm... Aku mencium bau pisang goreng yang lezat. (Tangannya
memegang kotak makan yang dibawa Mentari)
Mentari
: Eiittss... Jangan dimakan dulu. Makanan ini
kusiapkan untuk cemilan saat belajar kelompok nanti. (Mendorong tangan
Reyhan dari kotak makannya)Besok giliranmu yang membawa cemilan, ya!
Reyhan
: Loh, kok aku? Tidak, aku tidak akan membawa makanan
apapun besok.
Mentari
: Tidak bisa, besok adalah giliranmu. Jadi, kau
harus membawa makanan!
Reyhan
: Tidak, tidak bisa begitu. Aku mau meminta makanan
darimu saja.
Mentari
: Dasar laki -- laki, tidak modal! Bawalah makanan besok! (Mulai
gemas)
Reyhan
: Tidak akan! (Mentari mulai gemas dan
mereka mulai berdebat)
Lampu
menyorot pada setting bagian kelas, kemudian suara riuh siswa yang berdebat
mulai terdengar. Mentari mulai celinggukan.
Siswa 1
: Nah, begini caranya!
Kalikan dulu bagian yang dalam kurung. (Meletakkan pena yang dipakainya
menjelaskan ditengah -- tengah kerumunan)
Siswa 2,
Siswa 3 : Aaaaa... Iya iya. (Keduanya mengangguk)
Siswa 4
: Tidak! Bukan begitu
caranya.
Siswa 2,
Siswa 3 : Iya tidak begini, kau salah! (Bersahutan ke arah siswa 1,
siswa 1 hanya celingukan)
Siswa 4
: Benar sekali,
jawabannya salah.
Siswa 1
: Ah sudahlah, kalian
belajar saja sendiri! (Menggebrak meja dengan nada bicara sedikit kesal)
Mentari
tertarik dengan keributan para siswa di kelas, dia mengintip dari tempatnya
berdiri.
Mentari
: Ehhh.. Tunggu disini sebentar ya, Han! (Memberikan
isyarat kepada Reyhan untuk tetap ditempat dengan tangannya kemudian lari
menghampiri para siswa)
Mentari
: Itu PR Fisika, ya?
Keempat
siswa : Iya! (Menjawab secara bersamaan dengan wajah yang mulai kesal
dan risau)
Mentari
: Materi yang
minggu lalu itu, ya?
Siswa 2
: Benar! Yang
sulit itu loh!
Siswa 3
: Yang
penghitungannya panjang!
Siswa 4
: Aku
tidak mengerti sama sekali saat guru menjelaskan di depan!
Siswa 1
: Benar! Sulit
sekali!
Keempat
siswa kemudian saling bersahut -- sahutan dan heboh tentang PR Fisika yang
diberikan, Mentari hanya mendengarkan. Jovian yang duduk di barisan depan mulai
terusik dengan kebisingan siswi -- siswi yang berada di belakangnya, dia
menutup buku yang sedang dibaca kemudian menggebrakkannya diatas meja. Jovian
kemudian menengok.
Jovian
: Woy! Berisik! Tidak bisakah kalian
memelankan suara? (Berhenti bicara sejenak, semua siswi diam.)Nah
benar, seperti itu. (Berbalik kedepan dan membuka kembali buku yang
tadi sudah ditutup kemudian menyilangkan kaki)
Siswa 3
: Dasar, mentang -- mentang anak orang kaya,
seenaknya saja bersikap! (Bersedekap dan dengan nada bicara
menyinggung)
Siswa 4
: Benar! Hei Jovian, kalau kamu ingin
tempat yang tenang untuk membaca, lebih baik pergi saja dari sini! (Bekacak
pinggang)
Siswa 1
: Sudah -- sudah, daripada meladeni
anak itu, lebih baik kita mengerjakan PR Fisika saja. Benar tidak?
Siswa 2
: Betul sekali! Mentari kemarilah,
bantu kami mengerjakan soal yang nomor 3! (Berdiri dari kursinya dan
mempersilahkan Mentari duduk)
Mentari
: Oh ini, jadi begini caranya!
Lampu
meredup di set kelas, suara kerumunan siswa juga semakin melembut dan lemah.
Fokus lampu sorot langsung ke arah Reyhan yang berdiri di tengah panggung. Suara
dering telepon genggam terdengar dari saku celananya. Reyhan merogoh saku
celananya kemudian mengambil sebuah telepon genggam hitam. Reyhan melihat
layar, tertulis panggilan dari paman Dodi.
Reyhan
: Loh, paman Dodi? Kenapa pagi --
pagi begini menelepon? Ah jangan -- jangan, beliau salah menelepon. (Mengangkat
telepon)Halo, assalamualaikum paman Dodi. (Berhenti dan
mendengarkan) Oh Mentari, iya sekarang saya sedang bersama Mentari di
sekolah paman. (Berbicara dengan nada ceria)Oh... Ehmm... Saya
tidak yakin paman, Mentari biasanya tidak membawa telepon genggamnya ke
sekolah. Tapi, saya bisa menyampaikan pesan paman kepada Mentari jika pesan ini
darurat. (Mendengarkan suara di telepon)Oh begitu paman, baiklah
kalau begitu. Percayakan saja pada Reyhan, saya akan menyampaikannya.
Reyhan
diam beberapa saat dan mendengarkan apa yang dikatakan paman Dodi di telepon,
wajahnya berubah serius dan kemudian menampakkan ekspresi kaget.
Reyhan
: Apa?! (Mondar -- mandir
dengan sebelah tangan mengepal menutupi hidung, dia berhenti mondar -- mandir
sejenak. Wajahnya mulai cemas.) Baik paman, akan saya sampaikan kepada
Mentari. (Mengangguk, memberi jeda pada setiap dialog)Iya paman.
Baiklah. Iya sama -- sama paman. Waalaikumsalam.
Reyhan
menutup telepon lalu memandang telepon yang ada di genggamannya sejenak. Sorot
lampu di area kelas terang kembali, suara debat para siswa mulai terdengar
keras. Reyhan kembali mondar -- mandir dan meyakinkan diri. Lalu Reyhan lari
menghampiri Mentari yang sedang duduk asyik di area meja bersama teman --
temannya dengan wajah cemas.
Reyhan
: Mentari!
Mentari
: Ya? (Menengok ke arah
Reyhan sambil tersenyum, 4 siswa disana ikut menengok dan mendengarkan dengan
saksama.)
Reyhan
: (Menghela napas)Sepertinya
kamu harus ke pengadilan negeri sekarang juga. Ada sedikit masalah dengan
saham Starlight Corp.
Jovian
menengok, menampakkan wajah kaget. Mata Mentari masih menatap Reyhan, tapi
senyum Mentari telah menghilang. Mentari meletakkan tas dan semua barangnya
lalu bergegas berdiri dari kursi, matanya masih menatap Reyhan. Mentari sejenak
membeku.
Mentari
: Ayahku? (Wajah bertanya -
tanya)
Reyhan
mengangguk pelan. Keduanya lalu lari sampai keluar panggung. Jovian menutup
bukunya dan menaruhnya di atas meja kemudian bergegas lari mengikuti Mentari
dan Reyhan yang sudah duluan meninggalkan panggung. 4 siswa lain melihat heran
sambil menatap satu sama lain. Suasana hening, lampu meredup lalu mati. Tirai
ditutup.
Babak 2
Pada babak
ini panggung akan diubah menjaditempat sidang dengan dua buah meja hakim
yang disusun di sebelah kanan, 2 kursi di bagian belakang menghadap penonton,
dan 2 kursi lainnya disusun di tengah menghadap meja hakim. 2 hakim sudah duduk
di kursinya, di sebelah kiri hakim berdiri 2 polisi dengan gagah dan tegapnya.
Seorang laki -- laki dengan kemeja rapi juga sudah duduk di tengah panggung
menghadap meja hakim, seorang lainnya dengan jas hitam rapi berdiri angkuh di
depan penonton. Tirai dibuka. Lampu menyala. Laki -- laki berjas itu mulai
bermonolog.
Alan
Siregar : (Mengangkat tangan keatas)Jadi begitu pak
hakim! Saya sudah rugi besar. Uang saya ludes dibawa lari. Uang perusahaan saya
telah dikorupsi oleh manusia bernama Agus Sulistyo itu! (Menunjuk ke
arah laki -- laki yang duduk di tengah)Usaha saya jatuh hanya karena
ulahnya dan saya punya cukup bukti untuk membuktikannya!
Hakim 1
: Baik pak, sudah cukup. Waktunya kita
mendengarkan kesaksian dari terdakwa.
Alan
Siregar : Saya ingin dia dihukum berat pak hakim! Saya ingin dia
membayar hutang -- hutangnya! (Nada bicara marah dan memaksa sambil
menatap para hakim)
Hakim 2
: Iya pak, kami mengerti. Lebih baik kita
dengarkan ... (Tiba -- tiba berhenti berbicara dan menatap ke arah
pintu masuk)
Agus
Sulistyo : (Menengok ke arah belakang)Mentari?
Mentari
masuk panggung dari bagian belakang bersama Reyhan dengan napas terengah,
keduanya berdiri dan mematung. Semua orang di persidanganmenengok. Sesaat
kemudian, datanglah Jovian. Mentari melihat kearah belakang dimana Jovian
berdiri, sesaat kemudian dia kembali menatap kedepan sambil celingak --
celinguk.
Alan
Siregar : Nah, saksi saya telah tiba. (Wajah sumringah)Saya
menunjuk Mentari, anak dari Agus Sulistyo untuk bersaksi atas kasus korupsi saham
ini di depan sidang. (Menarik mentari paksa dan mengajaknya duduk di
kursi depan di sebelah Agus Sulistyo)
Semua
orang menatap ke arah Alan Siregar, tiba -- tiba Jovian mengangkat tangannya.
Jovian
: Interupsi tuan, tidakkah
sebaiknya anda melakukan prosedurnya terlebih dahulu sebelum memanggil
seseorang sebagai saksi, apalagi saksi yang terpanggil masih tergolong siswa
dibawah umur?
Alan
Siregar : Tidak perlu prosedur dalam kasus perusahaan besar
seperti Starlight Coorporation,sebaiknya kau duduk saja dan
mendengarkan dengan saksama, wahai anak muda. (Mendorong bahu Jovian
lalu kembali ke tempatnya.)
Hakim 1
: Iya, lebih baik kalian duduk dulu anak --
anak.
Jovian
mengepalkan tangannya, tapi dia tetap menahan tangan itu untuk tidak bertindak.
Jovian duduk di kursi yang telah disiapkan di belakang, Reyhan mengikuti
langkah Jovian ikut duduk di sebelahnya.
Hakim 2
: Mentari, bersaksilah atas kasus korupsi
yang melibatkan Agus Sulistyo dengan Starlight Coorporationini.
Hakim 1
: Tidak apa Mentari. Katakanlah apa yang kau
tau tentang pekerjaan ayahmu.
Mentari
terus memasang wajah bingung, sejenak dia tak bisa menjawab.
Mentari
: Aku... Aku... Aa... Aku... (Wajahnya
menunduk ke bawah lalu melirik ke kanan kiri)
Agus
Sulistyo : Dia tidak tau apa apa hakim. Anda telah membuang waktu untuk
mendengarkan kesaksian seorang anak pelacur seperti dia! (Tidak
menengok ke arah Mentari sama sekali)Kasus ini tidak jelas dan harus
ditutup. Tuan Alan Siregar tidak mendatangkan saksi yang tepat.
Alan
Siregar : Tidak hakim, Mentari adalah saksi yang yang tepat
untuk...
Mentari
: (Memotong pembicaraan) Kalau
begitu, biarkan saya berbicara di depan persidangan hakim! (Wajah
kecewa dan mata berkaca - kaca)
Semua
orang menengok, termasuk Agus Sulistyo yang duduk di sebelahnya.
Mentari
: (Berbicara dengan nada bicara
pelan sambil menengok ke wajah ayahnya)Saya sudah mempercayai ayah selama
ini, saya tidak percaya ayah akan mengatakan kata -- kata itu kepada saya. Ayah
telah membuat saya kecewa.
Mentari
: (Berbicara dengan lantang dan
mulai bermonolog)Saya Mentari, bersaksi atas kasus korupsi perusahaan Starlight
Coorporation. Agus Sulistyo, ayah saya, mengaku kepada saya bahwa
beliau menjalankan bisnisnya di luar kota sejak saya berumur 7 tahun. Beliau
meninggalkan rumah dan sulit dihubungi oleh keluarga. Beliau berjanji kepada
saya untuk kembali dan membelikan saya permen saat saya ulang tahun, tapi hari
itu tidak pernah terjadi. (Berdiri dari kursi dan bermonolog di depan)Saya
hanya hidup bersama ibu dan simbok, pembantu kami. Kami tidak pernah menerima
uang sepeserpun dari ayah, sampai ibu akhirnya lelah berjualan dan memutuskan
untuk meninggalkan rumah, meninggalkan saya dan simbok sendirian karena sudah
tidak mampu lagi membiayai anaknya yang boros ini. Memilih untuk bekerja
sebagai pelacur dengan gaji besar dan singkat daripada mengelola warung nasi
uduknya di rumah. (Air mata mengalir)Saya cari ayah ke kota, tapi
saat saya temui, beliau sedang mengerjakan tugasnya di perusahaan. Saya
ceritakan kepada dia soal ibu, lalu beliau hanya berkata 'Pulanglah! Ayah akan
sering -- sering meneleponmu nanti!' Tetapi, sesering apapun ayah menelepon,
dia tidak pernah pulang ke rumah. Setiap bulannya ayah mengirimkan dana entah
darimana asalnya ke rekening, beliau kata 'Itu uang untuk kamu sekolah, nak.'
Simbok yang setiap bulannya mengelola uang itu, dipakainya semua untuk
kebutuhan sehari -- hari. (Mundur ke kursi dan duduk kembali)Kukira
ayah peduli, kukira ayah pekerja keras yang kuat sampai dapat menyisihkan
banyak tabungannya untuk anak semata wayang. Aku sangat menghargai setiap dana
dan usaha yang telah ayah berikan. Aku sangat mempercayai ayah. Tetapi kali ini
aku sangat kecewa kepada beliau. Jika terbukti beliau melakukan korupsi atas
perusahaan Starlight Corp.,biarkanlah persidangan yang menentukan,
saya serahkan semuanya kepada hakim. (Duduk tenang memandang kedepan
tanpa ekspresi)
Agus
Sulistyo : Mentari! Ayah tidak bermaksud... (Tangannya hendak memegang
bahu mentari, tetapi Mentari memalingkan wajah)
Hakim 2
: Saudara Agus Sulistyo, apakah anda memiliki
pembelaan atas pernyataan ini? (Memotong pembicaraan Agus Sulistyo)
Agus
Sulistyo : (Menengok ke arah Mentari.)Saya telah memastikan diri
bahwa saya terlibat dalam kasus korupsi ini. Saya telah menggelapkan uang
perusahaan.
Hakim 2
: Dengan pengakuan ini, saudara Agus
Sulistyo, tervonis 15 tahun penjara dan denda atau ganti rugi sebesar seratus
juta rupiah atas kasus korupsi perusahaan Lightstar,dan dengan ini
saya menyatakan bahwa Alan Siregar memenangkan persidangan. Bawa Agus ke
tahanan! (Memukul palu)
Polisi
langsung bertindak dan menarik Agus dari kursinya. Alan Siregar hanya tertawa.
Ketika polisi sedang menggenggam Agus dari kursinya, tiba -- tiba dia
mengangkat tangannya.
Agus
: (Mengangkat tangan)Tunggu
pak hakim, beri saya kesempatan untuk berbicara sebentar dengan Mentari.
Alan
Siregar : (Berdiri di antara Mentari dan Agus)Halah,
untuk apa berbicara dengan Mentari, Mentari tidak ingin berbicara denganmu! Dia
sudah terlalu kecewa, kamu telah menjadi percontohan yang buruk, mendekam saja
lah kau di penjara! (Menjauhkan Mentari dari Agus, lalu tertawa.)
Agus
Sulistyo : Tidak, tunggu, beri aku kesempatan tuan! (Sambil terus
mencoba melepaskan diri dari para polisi yang terus menyeret)Tuan Alan,
biarkan saya bicara kepadanya! Beri saya waktu! Mentari! Mentari!
Polisi
terus menyeret Agus sampai ke luar panggung, namun Agus tetap meronta meminta
waktu untuk berbicara dengan anak semata wayangnya itu. Semua orang berdiri.
Alan
Siregar : Pergilah! Dasar tikus berdasi!
Agus
Sulistyo : Tunggu! Mentari! Ayah tidak bermaksud begitu! Dengarkan penjelasan
ayah dulu, nak! Mentari! Mentari!
Agus
terus berteriak seiring dengan polisi menyeretnya ke luar panggung sampai
suasana hening tanpa teriakan lagi. Tetap terjadi percakapan sahut -- sahutan
antara Alan dengan Agus yang saling menghina. Hakim menghampiri Alan Siregar
dan berbincang sejenak, sementara Mentari hanya diam menahan tangis. Reyhan
datang menghampiri Mentari yang berdiri mematung.
Reyhan
: Mentari... (Berdiri
dibelakang Mentari yang terisak)
Mentari
tidak menengok ataupun menjawab, dia menangis lalu berlari keluar panggung.
Reyhan
: Mentari! (Berteriak, lalu
berlari menyusul Mentari keluar panggung.)
Jovian
mengulurkan tangannya kedepan seolah ingin mengejar Mentari juga, tapi dia
tidak beranjak. Dia diam sesaat, pandangannya mengarah ke Alan Siregar. Jovian
mengepalkan tangannya menahan amarah, tapi amarah tak bisa tertahan lagi. Dia
berlari ke arah Alan.
Jovian
: Cukup ayah, ini sudah
keterlaluan! (Melempar dokumen di tangan Alan yang Ttadi diberikan
hakim)
Semua
orang melihat ke arah Jovian, lampu fokus menyorot mereka lalu cahaya perlahan
meredup dan mati. Tirai mulai ditutup.
Babak 3
Babak
ketiga diatur dengan latar belakangruang kerja dan teras rumah.Panggung dibagi
menjadi dua bagian, sebelah kanan untuk ruang kerja dan sebelah kiri untuk
teras rumah. 1 meja kerja dan satu kursi disusun menghadap samping dengan
dokumen -- dokumen berantakan di meja. Diatas meja juga terdapat sebuah leptop
berdiri. Panggung sebelah kiri tertata sebuah kursi panjang.
Awalnya
lampu menyorot ke setting ruang kerja.Saat tirai terbuka, sudah adaAlan
Siregar yang mengenakan seragam kerja berdasi tengah membaca beberapa
dokumen. Cahaya menyorot ke bagian panggung sebelah kanan lalu adegan
dimulai. Alan sedang duduk di kursi kerjanya sambil menyeruput secangkir kopi
panas yang manis. Tiba -- tibaJovian masuk ke ruang kerja Alan dan berdiri di
samping meja kerjanya.
Jovian
: Ayah! (Nada suara
biasa)
Sebelum
Jovian sampai ke samping meja kerja Alan, Alan sudah memberikan isyarat
tangannya untuk menyuruh Jovian berhenti. Alan masih menyeruput cangkir
kopinya.
Alan
Siregar : Apa yang kau cari?
Jovian
: Aku ingin bicara denganmu.
Alan
Siregar : Soal sidang itu lagi?
Jovian
: Kali ini aku akan menjaga
emosiku.
Alan
hanya diam. Tangannya menaruh cangkir kopi lalu memalingkan wajah.
Jovian
: Kurasa ayah memenangkan
sidang ini dengan cara yang tidak bijak.
Alan
Siregar : Apa urusanmu? Kamu itu anak muda, tidak tau apa -- apa
soal bisnis!
Jovian
: Aku mungkin bukan pebisnis yang
hebat, tapi aku akan lulus kuliah hukum dan mengerti bagaimana seharusnya hukum
berjalan.
Alan
Siregar : Halah, politik itu keras jadi jangan jadi orang suci.
Kalah kamu! (Berjalan menghampiri Jovian)
Jovian
: Tapi apa yang ayah lakukan
ini sudah keterlaluan, mengekspos anak dibawah umur yang tidak tau apa -- apa
untuk membeberkan aib keluarga mereka?
Alan
Siregar : Apa pedulimu? Dia hanya anak dari seorang koruptor dan
pelacur. Yang penting, aku mendapatkan kembali uang yang terkorupsi oleh ayah
anak itu. Hanya karena dia teman sekelasmu, tak sepatutnya kau terlalu peduli. (Tertawa
sambil berjalan menjauh) Atau jangan -- jangan, kau telah jatuh cinta
padanya?
Jovian
: (Diam, tangannya
mengepal)Aku tidak akan membiarkan ayah bertindak macam -- macam kepada
wanita yang aku sendiri telah jatuh hati padanya.
Alan
Siregar : (Tertawa keras lalu menghampiri Jovian.)Ini
masalah bisnis Jovian, bisnis tidak memandang perasaan dan tidak memandang
hati! Berpikirlah secara logis! Kamu harus memperbaiki hati dan pikiranmu untuk
sukses. (Sedikit mendorong kepala dan dada Jovian)
Lampu
seluruhnya mati. Adegan selesai dan semua pemain mematung. Diputar
rekaman suara seorang wanita paruh baya yang menyanyi lagu jawa, lalu rekaman
suara percakapan Mentari dengan Simbok Uti diputar.
"Simbok
Uti menyanyi lagu, tiba -- tiba suara langkah kaki terdengar.
Mentari
: Simbok! Mentari mau pergi
mencari ibu. (Suara sedikit terisak)
Simbok
Uti : Tapi neng, nyonya kan...
Mentari
: Mentari mau mencari ibu, akan
ku cari sampai ketemu.
Simbok
Uti : Tapi neng, ibu... ibu...
Mentari
: Mentari tau, mbok. Orang --
orang sudah membicarakan ibu sejak lama! Simbok tidak perlu menyembunyikan
fakta, Mentari sudah tau kalau ibu selama ini melacur! (Suara piring jatuh yang
dilempar Mentari lalu suara tangis.)
Simbok
Uti : Neng Mentari! (Suara terisak.)
Mentari
: Akan ku suruh dia berhenti
melacur, mbok. Akan ku suruh dia pulang! (Terdengar suara langkah kaki)
Simbok
Uti : Jangan neng, lingkungan tempat nyonya tinggal
itu jauh dan keras, jangan pergi!
Mentari
: Mentari bisa pergi sendiri,
mbok. Sudah biar, lepaskan Mentari untuk pergi ke sana! (Suara sedikit marah
dan depresi, lalu terdengar lagi suara langkah kaki.)
Simbok
Uti : Tapi neng! Neng! Neng Mentari! (Suara keras
memanggil.)
Setelah
rekaman suara selesai diputar, lampu menyala. Lampu menyorot ke arah panggung
sebelah kanan dengan sebuah kursi panjang tersusun tegak. Saat lampu menyala,
Lulay sedang duduk di kursi panjang dengan pakaian ketat dan rok mini berbicara
dengan genit di telepon. Mentari masuk ke panggung, dia menengok ke sekeliling
mencari sesuatu masih dengan seragam SMAnya
"Iya
mas, iya jadi itu biaya per malam, bukan per jam. Oh iya, saya bisa dijemput di
Kalijodo. Ahh... Tapi malam ini saya sudah ada pelanggan. Kalo untuk Minggu
malam saya belum ada kencan (Mentari mulai masuk panggung), saya bisa bekerja
untuk Minggu malam. Biayanya tunai dibayar malam itu juga setelah kencan.
Iya... Iya mas... Pasti..."
Mentari
mendengar pembicaraan Lulay di telepon, dia berhenti berjalan. Wajahnya mulai
sedih lagi. Suara teriak Mentari terdengar keras saat monolog Lulay selesai.
Mentari
: Ibu! (Lari kearah Lulay sambil
meneteskan air mata lalu melempar telepon genggam yang sedang dibawa ibunya.)
Lulay
Ardianti : Mentari, apa yang kamu
lakukan di sini?
Mentari
: Ibu, kenapa ibu masih melakukan pekerjaan
ini? Hentikan, bu!
Lulay
Ardianti : Kenapa kamu kesini?! Sudah
pulang saja sana! (Langsung bergegas mengambil telepon genggamnya yang
tergeletak di lantai lalu berbalik dan berniat kabur.)
Mentari
: Ibu! (Menarik tangan Lulay.)Ibu! (Terdorong
ke belakang oleh Lulay.)
Lulay
Ardianti : Lepaskan! (Meronta
dari genggaman Mentari)
Mentari
: Ibu, ayah terlibat kasus korupsi dan
sekarang dipenjara. Mentari sendiri, bu. Mentari sekarang sendiri. (Menangis)
Lulay
Ardianti : Lalu kenapa? Sudah kuduga.
Ayahmu itu orang yang berengsek, aku tidak akan menemuinya lagi!
Mentari
: Pulanglah bu, berhentilah melacur!
Berhentilah melakukan pekerjaan kotor ini!
Lulay
Ardianti : Dasar anak tidak tau diri,
kau kira aku mau memiliki anak tidak berguna seperti kau, bisanya cuma
menghabiskan uang untuk sekolah saja. (Maju mendekati Mentari)Lebih
baik aku bekerja sendiri disini, menikmati uang.
Mentari
: Ibu! Ibu masih tega? Dimana
perikemanusiaan inu? Karena kasus itu rumah akan disita, simbok juga akan
pergi! Aku ini anakmu bu! Darah dagingmu!
Lulay
Ardianti : Sudah... (Menjerit.) Sudah
sana pergi, kamu bukan anakku lagi! (Berbalik)
Mentari
: (Mengejar Lulay)Ibu! Ibu!
Lulay
Ardianti : Pergi! (Meronta dan
mendorong Mentari sampai jatuh)Pulang sana! (Meninggalkan
panggung.)
Mentari
: Ibu! (Berdiri dan berniat mengejar
Lulay, menangis.)Mentari... Mentari... (Terisak, kakinya sudah
tidak kuat berdiri lalu mulai berlutut)
Mentari
terduduk sambil menangis, tiba -- tiba dia melihat sebuah pisau yang tergeletak
di lantai. Mentari merangkak dan meraih pisau itu, dia lihat pisaunya persis di
depan mata, tangannya memegang bilah dengan gemetar. Mentari lalu berdiri masih
dengan wajah frustrasi. Monolog pun dimulai.
"Buat
apa aku hidup di dunia ini kalau hanya hidup sendiri? Buat apa pisau ini
tergeletak disitu, kalau bukan untuk aku bunuh diri? (Terisak)Simbok,
ibu, dan ayah sekarang sudah tidak peduli kepada Mentari! Mentari sudah tidak punya
siapa -- siapa lagi! (Berteriak dan menangis keras) Mentari
anak tidak berguna dan tidak tau diri, Mentari... Mentari... Mentari sudah
tidak pantas lagi berdiri di dunia ini... Aaaaaa... (Berteriak dengan
keras sambil mengarahkan pisau ke perutnya)"
Sebelum
pisau menembus tubuh Mentari, tiba -- tiba Reyhan datang dari belakang dan
menahan pisau itu melukai sang wanita.
Reyhan
: Mentari! (Menahan Mentari
yang terus berteriak dan memberontak, setelah pisau didapat, Reyhan langsung
melemparkannya ke belakang.) Mentari! Mentari! Sadar Mentari! Apa yang
telah kau lakukan? (Menggoyang -- goyangkan bahu Mentari)
Mentari
: Lepaskan, Rey! Mentari sudah tidak mau
lagi bertemu denganmu!
Reyhan
: Mentari mau bunuh diri, hah? Mentari
mau mati?
Mentari
: Ihhh... Diam Rey! (Memegang kedua
telinganya lalu berjalan menjauh. Menangis.)
Reyhan
: Dimana Mentari yang dulu selalu
ceria? Dimana Mentari yang semangatnya selalu membara? Dimana Mentari kecil
yang senyumnya selalu hangat dan tulus? Beginikah semuanya akan berakhir? Aku
mengenalmu sejak umur 4 tahun Mentari, kamu bukanlah orang yang mudah menyerah
seperti ini! Kamu Mentari yang berwarna -- warni seperti apa kata orang -
orang, bukan yang redup seperti ini!
Mentari
: Pergilah Rey, Mentari warna -- warni umur
4 tahun sudah pergi, Mentari itu sudah hilang. Mentari sudah waktunya untuk
tenggelam. (Memalingkan wajah)
Reyhan
: Kamu mau bunuh diri? Lihat! Tanganmu
terluka. (Memegang tangan Mentari yang berdarah.)Luka kecil saja
sakit, kamu masih mau menusukkan pisau itu ke perutmu? Kamu sudah siap sakit,
hah?
Mentari
: (Menarik tangannya.)Diam
Rey! (Membalikkan badan.)
Reyhan
: (Kembali membalikkan bahu
Mentari)Menurutmu kenapa ayah dan kakekmu memberimu julukan warna -- warni?
Karena kamu selalu ceria dan bersemangat, kamu tidak pernah putus asa! Sekali
waktu kamu bisa menangis dan tertawa, membawa senyum untuk orang -- orang di
sekitarmu! Dan sekarang kamu mau menghilangkan warna -- warni itu?
Mentari
: Mereka memanggilku begitu karena aku
selalu mengenakan pakaian warna mencolok, seperti orang gila, mereka tidak
pernah menyayangiku! Buktinya ayahku sekarang seorang koruptor, dan kakekku?
Dia menjadi gila dan masuk rumah sakit jiwa karena menjadi psikopat dengan
membunuh istrinya sendiri, nenekku Rey! Nenekku! (Terisak, semakin
mundur menjauh.)
Reyhan
: (Nada bicara halus) Aku
mengenalmu Mentari, lebih dari yang kau tau.
Mentari
: (Memegang kepalanya.)Hentikan,
Rey! Aku bisa saja membunuhmu sekarang juga dan menjadi psikopat seperti kakek,
aku juga bisa menjadi pelacur seperti ibu sekarang jika kau tetap mengoceh
seperti itu. (Berhenti sejenak)Aku ini anak yang tidak baik,
Rey. (Tersedu.)Semua keluargaku berakhir buruk! Kenapa kau
masih peduli denganku?! Aku ini anak koruptor dan pelacur, cucu dari seorang
psikopat. (Menangis semakin tersedu lalu terduduk)
Reyhan
: Kamu bertanya alasannya, Mentari?
Alasannya karena aku mengenalmu bukan seperti Mentari yang sekarang. Kamu bukan
seperti ini (Mundur). Kamu berbeda dari ayah, ibu, ataupun kakekmu.
Kamu adalah Mentari. Mentari warna -- warni seperti yang selama ini kukenal.
Semua
mematung, masih dengan adegan Reyhan yang berdiri dengan tatapan tulusnya dan
Mentari yang depresi dan terduduk di lantai. Lampu fokus ke keduanya, lalu
cahaya mulai meredup dan mati.Perlahan tirai mulai tertutup.
Babak 4
Babak
keempat diatur dengan latar ruang kelas. Di bagian tengah panggung
tersusun 6 buah meja dan 7 buah kursi. 4 siswi sedang bencengkerama di sana, 2
diantaranya duduk di atas meja, dan 2 lainnya duduk di kursi. Mentari masuk
dari panggung sebelah kanan dengan wajah lesu masih membawa ransel dan tempat
makan serta tempat minum yang sama. Awalnya kursi berjejer menjadi 3 baris
disusun per kolomnya 2 meja, semuanya diatur agak miring untuk menghindari
pemblokingan. Saat lampu menyala semua siswa sedang ramai menggosip.
Siswa 1
:(berdialog sambil menopang dagu
dan tersenyum lebar).Iya kemarin aku sudah ditelepon!
Siswa 2
: Lalu bagaimana, kalian akan keluar
bersama Sabtu malam ini?
Siswa 1
: (Senyum)Iya dong.
Semua
siswa seketika berteriak histeris.
Siswa 4
: Ehh... Lalu, bagaimana dengan tugas
fisikamu? Bukankah itu dikumpulkan onlinehari minggunya?
Siswa 3
: Benar sekali, apa kamu yakin
mau keluar dengannya Sabtu malam?
Semua
siswa ramai berdebat.
'Benar!'
lainnya menyahut 'Tidak bisa begitu!' 'Tugas ini sulit sekali!' 'Iya gurunya
galak!' 'Benar!' 'Iya tepat sekali!' ' Wah pilihan yang sulit'
Siswa 1
hanya melongo melihat teman -- temannya berdebat dan saling bersahut --
sahutan.
Siswa 1
: Ahh... Lalu aku harus bagaimana?
Teman
-- temannya kembali heboh bersahut -- sahutan.
'Bagaimana,
ya' 'Ya mau bagaimana lagi' Lainnya menimpali.'Benar, mau bagaimana
lagi'
Mentari
masuk ke panggung, wajahnya ragu, tapi lantas dia meyakinkan diri. Mentari
berjalan pelan ke arah kerumunan siswa lalu duduk di salah satu kursi.
Mentari
: Teman -- teman. (Menaruh
tempat makan dan minumnya di atas meja)
Siswa 3
: Euhh... Euhh... Kenapa kamu kesini
Mentari? (Berdiri dari kursi)
Siswa 1
: (Berdiri)Hai Mentari! Kursi
ini bukan untukmu! Pergilah! Jangan duduk di sini lagi! (Mendorong
Mentari dari kursi sampai terjatuh.)
Siswa
lainnya ikut berdiri, salah satunya menggeser tempat makan dan tempat minum
Mentari yang ditaruh di meja.
Mentari
: (Bangkit dan berdiri)Tapi
teman -- teman, aku biasanya duduk di sini bersama kalian, bukan?
Siswa 4
: Tidak lagi Mentari, mulai sekarang jangan
duduk dekat kami! Jangan bergaul lagi dengan kami! Karena kami tidak mau lagi
berteman denganmu! (Menunjuk)
Keempat
siswa mengelilingi Mentari, mereka mendorong - dorong dan mempermainkannya
sambil tertawa -- tawa.
Mentari
: Tapi teman -- teman!
Siswa 2
: Diam Mentari! Kami tidak mau lagi berteman
dengan seorang anak koruptor dan pelacur seperti kamu! Kami tidak mau tertular
jahatnya keluargamu.
Siswa 3
: Hahaha... Benar sekali, namanya buah
pastilah jatuh tidak jauh dari pohonnya, sama seperti Mentari bodoh ini!
Semua
siswa bergerombol di salah satu sudut.
Siswa 1
: Hai teman, kudengar ayahnya korupsi di
perusahaan besar, dan ibunya adalah seorang pelacur! (Nada bicara keras
meledek)
Siswa 3
: Oh ya?
Siswa 4
: Benarkah? Orang tua Mentari? Koruptor dan
pelacur? Hahaha...
Siswa 2
: Kudengar juga, kakeknya adalah seorang
psikopat dan membunuh istrinya sendiri!
Siswa 1
: Iya kah, keluarganya buruk sekali! (Tertawa)
Siswa 4
: Benar, jangan -- jangan Mentari sama
dengan keluarganya!
Siswa 3
: Benar sekali, ih jangan sampai kita
terugikan gara -- gara dekat dengan orang itu!
Siswa 2
: Benar, lebih baik kita pergi jauh -- jauh
dari anak koruptor dan pelacur serta cucu dari seorang psikopat itu!
Siswi
-- siswi yang bergerombol itu terus mengolok -- olok Mentari dengan suara
lantang sambil sesekali tertawa. Pada titik puncaknya, Mentari sudah tidak
tahan lagi dan mulai menangis. Mentari terus tersedu.
Siswa 4
: Sudah ayo kita pergi teman -- teman! (Berjalan
melewati Mentari dengan angkuh diikuti oleh siswi lainnya)
Mentari
berjalan menuju sebuah tempat duduk di barisan depan sambil terus menangis,
sedangkan siswi -- siswi lainnya memberi jarak di antara meja mereka dengan
meja yang diduduki Mentari dengan menggesernya ke belakang. Tatapan siswi --
siswi itu jijik melihat Mentari seakan -- akan Mentari adalah sampah.
Mentari
duduk di kursi lalu meletakkan kepalanya di meja sambil menutupinya dengan
punggung tangan. Tangis Mentari masih terdengar tersedu meski dia berusaha
menutupinya.
Sementara
siswi -- siswi yang lain sedang heboh di belakang, Jovian masuk masih dengan
buku yang dibacanya. Suara siswi -- siswi, tak terdengar lagi, suara tangis
Mentari yang kini sampai di telinga. Jovian berjalan menghampiri Mentari yang
kebetulan duduk di kursi sebelahnya. Dia menutup buku dan mulai duduk.
Jovian
: Ehm... Mentari, apa kau tidak
apa -- apa? (Memegang bahu Mentari)
Mentari
: (Bangun dan mengusap air mata)Iya,
ehm... Aku tidak apa -- apa.
Jovian
: Kau yakin? (Merogoh
saku kemeja)
Mentari
: Ya, aku tidak apa -- apa, sungguh.
Jovian
memberikan sebuah sapu tangan, Mentari menerimanya.
Mentari
: Terima kasih, Jovial. (Mengusap
air matanya dengan sapu tangan)
Jovial
: Maafkan soal yang kemarin,
ayahku terlalu ambisius dan dibutakan oleh harta.
Mentari
: Ah tidak, bukan ayahmu yang salah kemarin,
ayahku yang sudah bersalah terhadap keluargamu. (Menunduk dan
tersenyum) Maafkan kami. (Menengok ke arah Jovian)
Jovian
: Aku tidak ingin kamu berpikir
begitu Mentari, bagaimanapun kami juga bersalah atas ketidakadilan di sidang
waktu itu,
Mentari
: (Masih dengan tersenyum manis
menyembunyikan kesedihan)Orang -- orang seperti kami memang sudah biasa
didiskriminasi, kami tidak punya jabatan apa -- apa, dan kami juga tidak kaya.
Tidak seperti...
Jovian
: (Memotong pembicaraan)Maafkan
aku.
Mentari
: (Menengok)Kenapa kamu meminta
maaf? Ini bukan salahmu bukan? (Tersenyum)
Jovian
: Aku percaya padamu
Mentari (Beradu pandang)Aku yakin kamu bisa melewati semuanya, aku
yakin kalau kamu tidak serapuh itu, dan aku juga yakin kalau kamu berbeda dari
ayahmu, ibumu, ataupun kakekmu. Kamu bukan Mentari yang seperti itu. Aku tau
kamu. Mentari yang ceria dan berwarna -- warni.
Seketika
tirai ditutup perlahan dan cahaya meredup.
Babak 5
Pada
babak ini panggunghanya akan diatur layaknya ruangan interogasi. Sebuah meja
dan dua kursi berdiri tepat di tengah. Seorang laki -- laki dengan pakaian
serba putih duduk bersila di kursi sebelah kiri sedang memainkan kuku -- kuku
tangannya. Di satu kursi lainnya duduklah seorang siswi dengan seragam SMA
rapi. Tirai dibuka, lampu fokus menyorot ke keduanya. Dialog pun dimulai.
Kakek
: Hahahaha... Mentari... Mentari...
Cucuku... Cucu kecilku... Hahaha...
Mentari
: Kakek, menurutmu aku harus bagaimana? Jawablah
pertanyaanku!
Kakek
: Hahahaha... Bagaimana? Bagaimana?
Hahaha... Bagaimana ya?
Mentari
: (Melotot ke arah kakek dengan wajah
kesal)Tertawalah sepuasmu kek, kau sudah gila!
Kakek
: Hahahahaha... Aku gila... Ya, aku memang
gila! Tapi taukah kamu Mentari, kenapa kami memberimu nama Mentari? (Sambil
menggigiti kukunya lagi)Karena kami mau kamu tumbuh bersinar seperti
mentari yang membawa kebahagiaan bagi orang -- orang sekitar! Hahahaha...
Bodoh! Dan apakah kau tumbuh seperti yang kami harapkan? (Balik
melotot, lalu kembali tertawa)
Mentari
: Siapa yang mengharapkan sesuatu seperti itu? Itu
bodoh, kakek berbohong!
Kakek
: Hahahaha... Apakah kakekmu yang gila ini
terlihat bercanda? (Meletakkan kedua tangan diatas meja sambil terus
tertawa)
Mentari
: Aku akan pergi ke kantor perusahaan besar
dan mengambil uang mereka, atau aku akan pergi ke kampung pelacur itu dan ikut
melacur bersama ibu. Pastilah uang akan berdatangan dengan mudah karena aku
masih muda!
Kakek
: Ah, tidak... Tidak... Bukan seperti itu
julukan mentari warna -- warni yang kakek berikan padamu. Kami menginginkan
kamu tubuh dengan ceria dan semangat yang membara! Itulah yang disebut Mentari
warna -- warni. Hahahaha... Gila! (Tertawa sendiri sambil memainkan
rambut)
Mentari
mulai menitihkan air mata, dia mengusap pipinya.
Mentari
: Kakek, dulu aku dekat sekali denganmu. Tapi
kenapa kamu jadi seperti ini? (Terisak)Jika memang itu benar, lalu
kenapa kau sampai membunuh nenek?
Kakek
: Hahahaha... Karena aku gila! (Tertawa
semakin keras)
Mentari
: Hah! Apa aku harus mati saja?
Kakek
: Mati? Hahahaha... Mentari gila! Mentari
sudah tidak berwarna -- warni lagi! Mentari sudah gila! Gila! Hahahaha...
Mentari
: (Berteriak)Hah... aku lelah dengan
semua ini. (Berdiri di tengah meninggalkan kursi)Tuhan kenapa kau
tidak bunuh aku saja?! (Terisak)
Sorot
lampu fokus pada Mentari, lalu kerumunan siswi bergerombol disorot di panggung
sebelah kiri. Semua siswa tertawa.
Siswa 2
: Benar! Mentari itu anak seorang
pelacur!
Siswa 4
: Anak seorang koruptor juga!
Siswa 3
: Kakeknya seorang psikopat!
Siswa 1
: Benar keluarganya semua tidak ada
yang baik.
Siswa 4
: Jangan ada yang mau berteman
dengannya, dia sekarang gila!
Siswa 3
: Mungkin sekarang dia sedang melacur
juga di Kalijodo!
Semua
siswa tertawa, namun Mentari yang berdiri di tengah sudah seperti orang gila.
Imajinasi Mentari mulai liar.
Siswa 2
: Dasar pelacur, sekali ibunya
pelacur, anaknya pasti juga pelacur!
Siswa 1
: Lalu dia pasti memakan uang perusahaan dan
berencana membunuh kita satu persatu!
Siswa 4
: Sudah cukup, mulai sekarang jangan lagi
ada yang berteman dengan Mentari!
Semua
siswa menyahut dan heboh.
'Benar'
'Jauh -- jauh dari dia!' Yang lainnya menimpali. 'Aku tidak mau berteman
dengannya, anak kotor!'
Wajah
mereka meremehkan dan sinis menatap Mentari, suara mulai melemah. Sorot lampu
berganti ke sebelah kanan, semua siswi mematung. Di sebelah kanan berdiri Alan
Siregar dan dua hakim persidangan yang menyidang Agus. Dialog kembali mulai.
Alan
Siregar : Akhirnya aku mendapatkan kembali kekayaanku! Kamu tau
karena apa pak hakim? Karena anak bodoh itu! Anak bodohnya Agus Sulistyo!
Hahahaha...
Semua
orang ikut tertawa.
Hakim 1
: Anak koruptor itu, ya? Mentari yang
terbenam. Mentari yang lemah!
Semua
orang kembali tertawa.
Hakim 2
: Anak tidak berpendidikan seperti itu,
besarnya kalau tidak jadi lonte, pasti hanya berakhir bunuh diri!
Tidak punya masa depan, hahahaha...
Alan
Siregar : Anak bodoh!
Hakim 1
: Anak tidak berguna dan tidak tau diri!
Hakim 2
: Anak tidak punya masa depan!
Alan
Siregar : Hehehehe... Aku kaya! Aku kaya! Kaya!
Semua
tertawa cekikikan seakan -- akan sedang menertawakan Mentari. Lampu perlahan
redup dan suara dialog melemah. Sorot lampu menyorot fokus di bagian sebelah
kiri belakang. Di panggung bagian itu Reyhan dan Jovian berdiri tegap dan
memulai dialog, sementara Mentari semakin gila.
Reyhan
: Jangan pergi, Mentari! (Mengulurkan
tangan ke depan)
Jovian
: Kami menunggumu Mentari! Kami
merindukanmu!
Reyhan
: Jadilah Mentari yang dulu, temani
aku berangkat sekolah lagi!
Jovian
: Jadilah teman sebangku ku!
Duduklah di sebelahku ketika di kelas Mentari!
Reyhan
: Aku inginkamu menjadi Mentari yang
ceria dan bersemangat.
Jovian
: Mentari yang senyumnya selalu
tulus ketika menatapku.
Reyhan
: Mentari yang sesungguhnya.
Jovian
: Seperti Mentari yang ku
kenal.
Lampu
meredup, fokus lampu menyorot bagian belakang panggung sebelah kanan. Saat
lampu menyala, Agus Sulistyo dan Lulay sudah berdiri dan memulai dialog.
Agus
: Mentari! Maafkanlah ayahmu
ini!
Lulay
: Jangan pernah temui ibu,
Mentari!
Agus
: Ayah sudah bersalah dan
gagal mendidikmu.
Lulay
: Kalo kamu belum bisa jadi
anak yang berguna untuk cari duit, lebih baik ibu tidak punya anak!
Agus
: Ayah sudah membuatmu kecewa,
aku masih ingin menjadi ayahmu, Mentari!
Lulay
: Ibu malu punya anak cupu
seperti kamu.
Agus
: Kembalilah Mentari.
Lulay
: Pergilah Mentari!
Agus
: Ayah masih mengharapkanmu.
Lulay
: Ibu tidak mau mempunyai anak
seperti kamu!
Lampu
redup, sorot lampu kini berganti ke arah belakang, menyorot kakek Mentari.
Kakek tertawa -- tawa gila di belakang dan mulai bermonolog.
Kakek
: Mentari gila! Dia sekarang sudah
gila! Dia anak orang gila! Keluarganya gila! Hahahaha... Mentari tidak terbit
lagi, mentari telah tenggelam! Mentari sekarang hitam putih, Mentari tidak
berwarna -- warni lagi! Hihihihi... Karena Mentari sekarang sudah gila!
Lampu
menyala terang, semua tokoh berbicara bersamaan dan dengan nada suara keras.
Semua tokoh terus mengolok -- olok Mentari yang memasang wajah ketakutan di
tengah. Mentari terus mondar -- mandir ketakutan sambari menangis dan menutup
kedua telinganya. Mentari mengepalkan tangan dengan mata yang berair, dia
berteriak. Sangat keras. Monolog pun dimulai.
Mentari
: Diam kalian semua! (Menunjuk ke
arah semua orang)Aku... Mentari... Akan membuktikan kepada kalian semua.
Aku bersumpah! Aku... Aku... Tidak akan menjadi Mentari seperti yang kalian
kenal sekarang. Mentari akan membuktikannya! Mentari akan berubah. Mentari...
Mentari... Mentari akan mengejutkan kalian semua. Haahhhh.... Apa aku sudah
gila?
Semua
tokoh kembali berbicara bersamaan. Kali ini semuanya maju mendekati Mentari ke
tengah, semua berkerumun. Mentari terjatuh dan tersentak, dia terduduk di
lantai sambil menutup telinganya lagi. Sesaat, suara jeritan Mentari kembali
terdengar. Terdengar sangat keras. Semuanya mematung, lampu menyorot fokus ke
tengah.
Epilog
Narator
wanita dengan baju jawa itu masuk panggung dan menempatkan diri di sebelah
kanan. Dia menunjuk ke arah kerumunan. Lampu fokus menyorot.
Wanita
: Begitu ceritanya, pada saat itu aku
tidak bisa melakukan apa -- apa. (Berjalan kedepan)Sudah lama aku
tidak bertemu Mentari. Ada yang bilang dia bekerja di sebuah perusahaan besar
dan menjadi orang sukses (Tersenyum), rumor juga beredar kalau
katanya dia pergi sekolah ke luar negeri dan menjadi seorang dosen. Tetapi ada
yang bilang kalau Mentari menjadi kembang pelacur di perkampungan Kalijodo
bersama ibunya, beredar juga kabar kalau dia menjadi gila dan dijebloskan ke
rumah sakit jiwa yang sama dengan kakeknya. Rumor juga beredar kalau Mentari
mati bunuh diri dengan menusukkan pisau di dadanya. Sampai sekarang tidak ada
yang tau pasti dimana Mentari, sumpah untuk berubah yang dikatakan Mentari di
hari itu (Kembali menunjuk ke kerumunan di tengah)Tidak ada yang
tau bagaimana akhirnya. Tidak ada yang tau berubah menjadi apa Mentari
sampai... Hahahaha... (Tertawa ketakutan) Aku merasa sangat
bersalah, semua ini karena salahku. Dan sampai sekarang, aku masih merasa kalau
Mentari masih berada di sekelilingku. Apakah ini halusinasi? Ataukah aku memang
sudah gila? Hahahaha... (Kembali tertawa ketakutan dan mondar -- mandir
sembari menggaruki telapak tangannya)
Wanita
itu menunjuk ke sisi panggung sebelah kanan, dia menunjukkan jari telunjuknya
sambil menampakkan wajah khawatir.
Wanita
: Mentari.
Semuanya
mematnug. Diujung panggung sebelah kanan tampak seorang siswi SMA memakai
seragamnya sambil menggendong ransel dan membawa tempat makan serta tempat
minum berwarna merah muda sedang tersenyum menatap narator. Gadis itu tidak
berkata apapun, wajahnya pucat dan pasi. Matanya merah dan sedikit berair
seperti baru selesai menangis. Musik tegang berbunyi, lalu suara lagu jawa
berputar lirih seiring dengan lampu yang berkelap -- kelip dan perlahan
meredup. Lampu mati dan tirai tertutup

Komentar
Posting Komentar